Menjelang usia lima tahun, Azkara, anak saya mulai kenalkan dengan catur. Ia sudah mengenal nama-nama bidak dan bisa menatanya. Hanya penempatan raja dan mentri kadang terbalik.
Dulu, saya baru bisa main catur ketika sudah MTs. Saya sering bermain di kampung halaman bersma teman-teman sebagai hiburan semata. Sewaktu SMA, saya pernah ikut lomba mewakili sekolah, tapi gagal. Dan memang tidak pernah berlatih, tidak mencari tahu dan tidak mempelajarinya secara serius.
Tahun 2020, netflix merilis serial “The Queen's Gambit”, yang membuat saya antusias mengenal lebih dalam lagi. Ternyata memang banyak teori baik menyerang dan bertahan. Dan beberapa hari lalu netflix merilis film documenter “Queen of Chess,” mengangkat kisah seorang pecatur perempuan, Judit Polgár dan dua saudaranya. Eksperimen László Polgár membuktikan bahwa jenius dapat diciptakan melalui pendidikan intensif, lingkungan terstruktur, dan latihan yang disengaja sejak dini.
Saya pun hanya mengenalkannya saja, tidak lebih, kadang bermain bersama Azkara siapa yang lebih dulu menata bidak catur lebih cepat. Katika Azkara selesai duluan, ia mengangkat kedua tangannya, “Aku menang,” katanya dengan tersenyum. “Ayah kalah,” lanjutnya.
Sesekali
saya memberi arahan bagaimana menjalankan pion dan kuda.
"Langkah kuda itu seperti huruf L," kataku sembari memperlihatkan
kuda melompat. Azkara pun menirunya.
"Ayah, aku mau berjalan dengan berbentuk huruf O," kata Azkara
sembari memutar-mutar kudanya di papan catur. []
Tags
Prosa
