Jalan Baluran


Oleh Moh. Imron

Jika kalian melintas di jalan raya Hutan Baluran, maka kalian akan berpapasan dengan kendaraan mogok, entah itu motor, mobil, truk, pikap ataupun bus yang terjadi setiap hari. Cerita ini adalah alternatif jawaban dan kalian boleh untuk tidak mempercayainya.

***

Setiap melewati jalan raya Hutan Baluran, seperti menjadi tantangan tersendiri untuk menembus jalan sepanjang kurang lebih 23 kilometer. Aku sering dihinggapi rasa cemas, bagaimana jika kendaraan mogok di tengah hutan? Perasaan semacam itu mulai muncul sejak kuliah dan tinggal di rumah kakek di Banyuwangi. Setiap akhir pekan aku pulang ke Situbondo.

Mulanya, aku pernah mendengar pengalaman ayah, saat pikap yang ditumpanginya mogok di tengah jalan raya Hutan Baluran pada suatu sore—kala itu masih belum ada gawai. Mesin mati, sedangkan ayah dan sopir membawa barang dagangan serta uang dalam jumlah cukup banyak. Kecemasan pun muncul karena mereka tidak menguasai mesin dan takut akan begal atau perampok. Beberapa pengendara sempat dihentikan untuk meminta bantuan, tetapi tak satu pun yang bersedia berhenti. Barangkali karena situasi saat itu mencekam, bertepatan dengan tragedi pembantaian ‘dukun santet’ di Banyuwangi, sedangkan di Situbondo dikenal dengan tragedi Ninja.

Mau tak mau, ayah bermalam di tengah hutan sambil menjaga barang, terjaga sepanjang malam diiringi suara anjing, kidung, obrolan dan tawa perempuan, lalu lenyap berganti embusan angin dan bunyi hewan. Paginya, keluarga dari Banyuwangi menyusul karena khawatir barang dagangan tak tiba tepat waktu.

Cerita itu bukan untuk menakutiku, melainkan sebagai pengingat agar aku lebih waspada saat memutuskan kuliah di Banyuwangi. Ayah berpesan agar tidak melintas di jalan raya Hutan Baluran menjelang sorop arè. Selalu memeriksa kendaraan sebelum berangkat dan banyak berdoa.

Sebenarnya, aku sudah terbiasa melintas di jalan tersebut sejak kecil. Ayah selalu mengajakku ke Banyuwangi menaiki bus sebulan sekali untuk mengunjungi kakek dan nenek karena ayahku berasal dari sana. Setelah ayah menikah, ayah ikut ibu dan menetap di Situbondo. Hingga aku lulus kuliah, alhamdulillah aku tidak pernah mogok di sepanjang jalan raya Hutan Baluran. Hanya saja aku sering melihat kecelakaan seperti tabrakan beruntun, kendaraan terjun ke jurang, hingga korban meninggal. Ngeri. Setiap peristiwa itu terjadi, aku selalu berhenti untuk mencari tahu siapa korban kecelakaan tersebut, barangkali ada yang aku kenal atau untuk menghubungi pihak yang berwenang dan tim ngetèk—montir panggilan yang biasa membantu kendaraan mogok di Baluran—jika membutuhkan perbaikan. Entah sudah berapa ribu kendaraan mogok dan peristiwa kecelakaan di sepanjang jalan raya Hutan Baluran. Penyebabnya bermacam-macam, ada yang menyalahkan kondisi jalan, ada pula yang menyebut kelalaian pengendara. Namun sebagian orang percaya ada sesuatu yang mistis, sesuatu yang sulit dijelaskan. Untuk alasan yang terakhir, aku tidak pernah percaya, hingga suatu ketika aku benar-benar mengalaminya.

Kala itu dua kendaraan yang kami bawa macet secara bersamaan, sewaktu pulang dari Pantai Bama di Taman Nasional Baluran. Aku rasa bukan kehabisan bahan bakar, sebab sebelumnya kami sudah mengisi penuh bersama-sama di pom dekat Pondok Pesantren Sukorejo sewaktu berangkat.

Aku dan kawan-kawan mencoba memeriksa busi dan tetap kesulitan mengetahui penyebabnya. Sudah beberapa kali kami men-trap lalu men-starter motor, tetapi tidak menyala. Aku menghubungi tim ngetèk akan tetapi sinyal terganggu.

Suasana semakin sepi. Jalanan seperti lorong panjang dari tumbuhan. Tak ada angin yang membuat daun bergerak, tak ada kendaraan lewat. Aku teringat pesan ayah agar tidak melintas di jalan ini menjelang malam.

Varhan memang sering bercerita tentang hal-hal aneh di Baluran. Katanya, kita harus menjaga sikap.

“Cobalah kalian meminta maaf,” kata Varhan.

“Maksudmu?” Saydi menimpali.

“Kalian tadi pagi ketika berangkat kencing di sana,” kata Varhan sembari menunjuk pohon yang tak begitu jauh.

Kami bertiga berjalan mendekati pohon itu. Aku dan Saydi berdiri agak canggung. Lalu kami berdoa sebentar dan meminta maaf, sebagaimana saran Varhan. Air minum yang tersisa kami siramkan ke tanah sebagai tanda. Benar saja, kedua motor kami menyala kembali dan bisa melanjutkan perjalanan pulang, tetapi sepanjang jalan aku tak berhenti memikirkan kejadian itu.

Sebulan kemudian aku baru mendengar kabar bahwa tempat kami berhenti sore itu konon berada tak jauh dari makam seorang wali.

Kali kedua, terjadi ketika aku sudah memiliki istri. Kekhawatiranku setiap melintas di tersebut pun terjadi ketika pulang dari pernikahan saudara di Desa Kemiren, Banyuwangi. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba mobilku mati tepat di tengah Hutan Baluran. Lampu dasbor redup, mungkin karena akinya, sebelumnya aku pernah disarankan untuk segera ganti aki. Aku menghubungi kontak ngetèk. Sekitar lima belas menit pesanku baru dibaca. Ia memintaku mengirim ancer-ancer yang tak jauh dari pusat latihan tempur TNI. Aku harus menunggu agak lama karena masih ada pekerjaan yang belum selesai.

Maka datanglah lelaki paruh baya membawa senter dan menggendong tas. Ia berhenti tepat di depan mobil, lalu mengambil perkakas dan memintaku untuk membuka pintu mesin. Ia memerikasa mesin sekitar tiga menit.

“Coba nyalakan!

“Baik.”

Mobilku menyala, kuhidupkan lampu kota, ia menutup mata dengan lengannya, mungkin karena silau. Aku turun dari mobil, tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih sembari menyerahkan ongkos. Ia menolak dan memintaku untuk menyimpannya. Aku memberi oleh-oleh yang kubawa, juga ditolak. Aku sempat ngobrol sejenak, Namanya, Pak Kariah tinggal di Karangtekok. Aku kembali memaksa, ia tetap menolak.

Sekitar empat bulan kemudian, aku pernah mengantar istri ke rumah temannya sehabis lebaran di Karangtekok. Rumahnya masuk gang sebelum pintu masuk jalan raya Hutan Baluran. Di sana, aku sempat melihat bengkel dan toko onderdil kendaraan, sepertinya sudah berkembang dan mungkin sudah lengkap dibanding waktu aku kuliah.

Saat bertamu, aku sempat teringat Pak Kariah. Dalam obrolan menjelang pulang, aku pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada teman istriku.

“Tahu kediaman Pak Kariah?”

“Mengenakan tas putih dan caddhâng?

“Betul.”

Aku menceritakan kejadian kendaraan mogok di jalan raya Hutan Baluran beberapa waktu lalu. Aku hanya ingin menunaikan niatku untuk berkunjung dan barangkali memberi sedikit rezeki. Aku dan istri diantar menuju kediamannya. Maka tampaklah bangunan tua, tapi terlihat bersih, sepertinya dirawat dengan baik.

“Di sanalah, makamnya.”

“Sejak kapan meninggal?”

“Beliau adalah pembabat desa ini.”

Penjelasannya membuatku seketika tercekat, seolah ada sesuatu yang menahan suaraku untuk bertanya. Bulu kudukku meremang, sementara jantungku berdegup lebih cepat saat nama itu disebut. Aku hanya bisa menatapnya dengan perasaan tak percaya, mencoba mencerna kisah yang terasa ganjil. Untuk beberapa saat, aku hanya membisu.

Rupanya semua warga di sana sudah tahu cerita tentang Pak Kariah. Ia dikenal dengan nama Juk Kariah, seorang pertapa di Baluran, katanya. Dahulu, Baluran merupakan tempat hewan buas dan juga tempat berbagai siluman. Konon, Juk Kariah memiliki musuh makhluk halus bernama rè-remerè—makhluk yang tidak pernah berdamai dengan manusia. Berwajah perempuan dengan kaki seperti kuda, punggung bersisik tajam, dan suaranya agak meringkik. Tidak heran jika sampai kini makhluk itu masih mengganggu termasuk orang-orang yang melintas di jalan raya Hutan Baluran. Ia akan terus memusuhi manusia. Jika seseorang pernah membantu pengendara yang mogok yang disebabkan rè-merrè, maka Juk Kariah pun akan menolong ketika mengalami gangguan yang serupa di sepanjang jalan raya Hutan Baluran.

***

Di sepanjang jalan raya Hutan Baluran, sepertinya kendaraan akan terus mogok, entah karena urusan mesin, kondisi jalan, atau sesuatu yang sifatnya irasional. Jalan ini tetap harus dilewati bagi kalian yang sedang menuju TN Baluran, Banyuwangi atau Bali melalui jalur Pantura. Dan di jalan ini, segala sesuatu bisa terhenti. Cerita ini pun ikut mogok, lalu memilih berhenti sampai di sini. []

 

Tentang Penulis

Moh. Imron, lahir dan tinggal di Situbondo. Aktif di komunitas literasi Situbondo. Menulis Buku Kumpulan Cerpen dan Esai “Putri Tidur” Kisah dari Situbondo (2018). Tiktok @ronmuhammad IG @mohimron89


 


 



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak