Oleh: Taufiq Wr. Hidayat
Hujan
memang belum terang, Jendral. Tapi malam belum pulang. Kata sedang tak
menyampaikan berita, meninggalkan pelabuhan tua dari sejarah, luka-luka. Dan
bayangan hutan yang mengisahkan derita setelah banjir bandang. Orang-orang
mencari perahu Nuh. Ingin labuh ke tepian segala tak berhulu.
Hujan
belum terang, malam berseteru kesepian, Jendral. Seperti darah. Bahasa
menggigil tanpa siapa-siapa. Dunia kehilangan pengasuhnya. Dan nama-nama
tersimpan demam di saku seorang mata-mata.
Orang
malam mencucup malam mengasing malam di sudut malam. Perjalanan bagai tak
pernah terselesaikan. Arloji tua dan angin yang mendesah. Di seberang sana,
kemegahan menegakkan dirinya di antara tanda tanya dan malapetaka. Apakah kita
sedang berperang, Jendral? Apakah kita tengah mengusir atau membungkam musuh-musuh
negara? Apakah semua ini bukan perkara kepentingan emas, anggur dan kejayaan
hari tua?
Jalanan
menyimpan tikungan dan persimpangan. Tapi bahasa tak juga melepas derita yang
fana. Duka pun baka. Seperti ingatan masa lalu yang selalu berdarah dan
berdebu.
Lihatlah,
Jendral. Kota malam itu. Dibangun dari nista, tersuruk di ketiak kelam yang
bergaram. Huruf dan tanda baca menjelma bangkai nanah yang membeku, menjadi
belulang berdebu, mengusung keluh dari waktu. Cemas yang diam-diam menjadi
sedap, dan pelan-pelan menjadi ganas.
Lokomotif
peninggalan Belanda. Kuasa pada kata, meninggalkan koyak-moyak kepercayaan.
Selamat
berakhir pekan, Jendral. Silakan melepaskan lelah, meregangkan otot-otot, dan
mencemplungkan hutan dalam segelas minuman. Tulis pesan sebutir peluru, perihal sesuatu yang gagu. Lupakan kenangan
meja negara dengan setangkai bunga.
Kota malam lampu malam jalan malam, perih kelam, benam malam di gelap malam. Orang-orang masih memperebutkan kemenangan, Jendral. Sebab kemenangan itu di atas segala-galanya. Malam kandas di sepatu petugas. Seorang pemabuk, terkapar di tepi jalan malam di kelam diam di kubang geram yang dipendam dalam-dalam ke palung karam, sampah dan omong kosong.
Racun
emas menebar di lautan, menelan obat kuat, cairan pengharum lidah, dan kapsul
anti-biotika. Kuasa angkara manusia menebar tanda dan nama-nama yang diambil
dari catatan mata-mata.
Segala
kenang benam di persimpangan. Oh sudah lama sekali. Menyusun rencana dalam
gelap. Jari-jari waktu. Menghitung harapan, meletakkan ketakutan diri sendiri.
Apa yang kau pinta dari sunyi? Penungguan yang hilang. Ketakpastian yang
mencekam.
Ada
orang asing datang padamu, diam tak berparuh. Arloji tua mendetak. Sebuah dunia
lalu, kopor berdebu dan surat-surat perjalanan. Sepatu lusuh. Wajah kita. Di
situ. Meluruh hujan yang resah. Dan waktu terus menua. Kelip lampu mengecil.
Jendela-jendela retak cerita. Masih menggantung di alis mata. Garis-garis
mengiris. Yang menyelinap ke bayang gerimis. Langit menerima pesan gelisah dari
kemah-kemah nestapa. Atap-atap kepercayaan yang bocor.
Kelip
lampu. Sejarah tak menegas batas yang terus diretas. Tangan-tangan ungu, lepuh.
Mulut-mulut menubuhkan keluh.
Sungai
usia mengalir kisah. Segala ingatan itu jahanam. Waktu sudah menua, Jendral. Kuasa
masa, masihkah di tangan kita?
Banyuwangi,
16-2026
Tentang Penulis
Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019), "Dalil Kiai Sutara " (PSBB, 2020).
