Oleh: Nurillah Achmad
Batu
bersurat ini masih berdiri di sini. Masih mati dalam peraduan nasib di bawah
pohon kamboja yang batang pohonnya berongga, sementara gugur bebunganya
berserakan di atas tanah. Lelaki sepuh yang mengenakan peci hitam tersenyum
saat melihatku menaruh dupa. Tangan kanannya juga tampak gemetar menggenggam
gulungan kertas kusam.
Sekilas
ia menghela napas berat saat kertas ini berpindah tangan. Aku tak berani
membuka atau bertanya perihal isi di dalamnya. Terlebih, kedua mata lelaki ini
berkaca-kaca. Sebak di dadanya terlihat betul ditahan.
“Batu
ini...” katanya dengan suara bergetar. Aku tahu, ia akan menceritakan peristiwa
yang terjadi pada masa silam. Tujuh kali aku mendapati cerita yang sama.
Tetapi, tiap itu pula aku selalu berpura-pura seolah tak pernah mendengarkan
sebelumnya. Maka, pada hari ini, aku ingin engkau mendengarkan sendiri atas apa
yang dialaminya dahulu kala. Begini ceritanya....
Batu
ini pernah ditawar satu milyar. Aku tak pernah mengenal tamu itu sebelumnya.
Katanya, ia sengaja menyeberang dari Bali. Karman yang membawa tamu itu
mengeluarkan sebilah celurit dari balik baju, dan meletakkannya di atas meja.
“Pulanglah,”
kataku ketiga kalinya.
Karman
berdehem. Alisnya mengerut. Belum sempat ia berujar, aku kembali mengulangi
kalimat yang sama, “Pulanglah!”
Karman
tampak kesal. Ia mengajak tamunya keluar seusai memungut celurit. Tapi, belum
sampai kedua lelaki itu meninggalkan halaman, aku mendengar suara panci dan
wajan dilempar ke arah kandang.
“Kau
sudah kehilangan akal? Sampai kapan kita hidup melarat begini?” teriak Darmi
yang menguping sejak tadi.
Aku
sengaja tak menyahut. Perempuan itu makin mencak-mencak saat putraku yang baru
datang mengarit bertanya perihal pertikaian. Anak lelaki itu tak berkata
apa-apa. Ia hanya mengambil taplak di atas meja, lalu masuk ke dalam kamar.
Senja
baru saja turun saat keduanya berjalan di atas pematang menuju arah jatian
sembari membawa pakaian yang dibungkus taplak. Aku memilih membakar dupa dan
menaruhnya di pohon kamboja. Ada napas berat saat aku mengelus menhir ini. Aku
ingat betul, bagaimana saat remaja dulu, bapak yang kerap dimintai tolong
orang-orang saat sakit, mengajakku duduk bersimpuh di hadapan batu ini. Padahal
aku baru pulang dari kangai seusai mencuci baju yang terbuat dari kulit kayu
bunut, dan dibersihkan menggunakan biji klerek.
Bapak
bukanlah orang yang gemar bercakap. Ia mengajariku merapal mantra lalu membakar
dupa untuk ditaruh di sebelah menhir. Aku menuruti permintaannya tanpa banyak
tanya.
“Nanti
malam pasti ada yang bertamu padamu,” katanya.
Aku tak
begitu mengindahkan ucapan bapak. Kalaupun ada tamu, aku sangat yakin penduduk
di sekitar Duplang yang memintaku membangunkan bapak lantaran sanak keluarganya
sakit. Buktinya, menjelang tengah malam, tak seorang pun bertandang ke rumah.
Aku memilih tidur di atas lincak dan bermimpi. Dalam mimpi itu, seorang
perempuan cantik yang rambutnya tergerai dan mengenakan selendang hijau
menunjuk sebongkah batu di alas sebelah hutan pohon jati.
Seketika
aku terbangun. Cucuran keringat membasahi badan. Aku bangunkan bapak dan menceritakan
apa yang terjadi. Bapak menatapku lekat. Belum pernah aku mendapati tatapan
semacam itu sebelumnya.
“Kalau
kau berani, pergilah ke tempat itu sekarang seorang diri.”
Dadaku
bergemuruh mendengarnya. Aku tak begitu yakin, apakah Dewi Rengganis yang menemuiku
sebagaimana cerita turun-temurun jika puncak Hyang Argopuro sangat lekat akan
tempat persinggahan perempuan itu. Aku hanya mengangguk lalu memungut celurit
dan sebilah bambu yang disumpal serabut kelapa di dapur. Saat ujung obor itu
menyala, aku meninggalkan rumah melewati kebun jati.
Jangan
kau tanyakan apa saja yang aku dengar saat itu. Nyaliku hampir ciut saat
mendapati lolongan anjing yang disusul gemerisik ranting kering yang dilewati
ular. Tetapi, rasa penasaranku telanjur membuncah. Kaki terseok-seok menuruni
lembah. Sampai akhirnya aku tiba di ujung tenggara alas dan mendapati batu yang
ditunjuk perempuan itu.
Ada
empat batu berukuran sedang menopang batu agak besar. Agak mustahil sebetulnya
untuk menggeser batu-batu ini seorang diri. Tetapi, aku teringat akan mantra
yang tadi diajari bapak saat membakar dupa di menhir. Anehnya, seusai
melafalkan mantra ini, aku cukup mudah memidahkan batu-batu. Kau tahu apa yang
aku dapati setelah memindahkan batu terakhir dan menggali satu meter di dalamnya?
Ada kepingan emas, sungguh tak terhitung jumlahnya.
Lekas-lekas
aku mengubur kembali tanpa ingin memungutnya. Bahkan aku memangkas pohon
terdekat tanpa takut akan sergapan ular, lalu menutupi batu itu dengan tumpukan
dahan. Bapak yang mendengar ceritaku mengelus ubun-ubun seraya tersenyum. Sejak
itu, aku menyimpan cerita ini rapat-rapat selama puluhan tahun.
Sampai
akhirnya, setahun lalu, seorang lelaki hendak membuka lahan di dekat kangai.
Lelaki itu menemukan susunan batu yang mirip dengan batu yang kutemui di alas.
Ia meminta bantuan beberapa orang untuk memindahkan batu-batu itu. Pada awalnya
mereka kesusahan. Tetapi, seusai menggelar doa yang dilengkapi sesajen, mereka
berhasil memindahkan batu dan menemukan kepingan manik-manik. Kabar ini menyebar
cepat layaknya aroma bangkai yang tercium pekat. Susunan batu yang disebut
dolmen ini pun diburu dan digali. Bahkan tak sedikit batu purba jenis lainnya
menjadi rebutan.
Aku
ingat betul, malam itu, sebuah pikep berhenti di sebelah rumah. Napasku memburu
cepat saat mengendap dari balik kandang. Tiga orang tampak mengangkut batu
kenong yang dipungut dari area pohon jati. Malam makin larut kala ketiga lelaki
yang mengenakan pakaian serba hitam ini berjalan membungkuk menuju arah menhir.
Lama mereka berusaha mengangkat, tetapi tak sejengkal pun batu yang mirip stupa
Borobudur ini bergeser.
Hingga
akhirnya aku melihat seseorang menyergap mereka. Tanpa senjata tajam, lelaki
itu berhasil melumpuhkan pencuri. Bahkan tiga batu kenong yang berada di atas
pikep dipungut kembali dan ditaruh di sini. Aku betul-betul terpana saat
menyadari kalau lelaki itu dirimu.
“Mengapa
tidak menurunkan mantra itu kepada putra Bapak saja? Barangkali sekarang sudah
berubah pikiran.”
Aku
tersenyum kecut mendengar penuturanmu. Separuh tubuh putraku memang berasal
dariku. Tetapi, tidak jika menyangkut menhir.
***
Kedua
mata lelaki tua yang sejak tadi berkaca-kaca ini kini tak lagi bisa ditahan.
Sengaja aku memalingkan muka ke arah lereng Hyang Argopuro saat lelaki ini
mengusap kedua matanya. Kuakui, di padukuhan Duplang ini, ada banyak ragam
jenis batu purba yang tak terhitung jumlahnya. Tetapi kini, batu-batu itu telah
dipajang di luar negeri.
“Aku
yakin kau tak memandang menhir sebatas uang,” katanya dengan suara bergetar.
Aku
makin tertunduk mendengarnya. Dadanya naik turun. Sekilas aku menghela napas
berat saat menggenggam secarik kertas yang berisi peta menuju batu dolmen di
alas.
“Terbukti
menhir tadi bisa bergeser saat kau membaca mantranya, kan?” katanya lagi.
Dadanya makin naik turun. Napasnya tersengal-sengal. Bahkan badannya melorot
lunglai terjatuh di pangkuan. Keadaannya mirip betul seperti seseorang yang
tengah naza’. Aku ingin memastikan tubuhnya, tetapi keburu terpotong nada
dering di gawai. Ada sebuah pesan masuk di WhatsApp.
“Komisi
sepuluh persen sudah kutransfer barusan. Cepat angkut menhir itu. Antonio
menunggumu di Bali.”
Tentang Penulis
