oleh Putri Nurul Azizah
Berbicara tentang sastra anak, fantasi
dan imajinasi menjadi unsur yang tidak dapat dipisahkan. Sastra anak hadir
bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga ruang bagi anak untuk membangun,
mengeksplorasi, dan mengembangkan daya khayal. Namun, perkembangan sastra anak
yang pesat tidak diimbangi dengan meningkatnya minat baca anak. Kehadiran
gawai, media sosial, dan hiburan lainnya lebih menarik perhatian anak
dibandingkan buku. Akibatnya, sastra anak menghadapi tantangan untuk tetap
relevan, menarik, dan mampu bersaing dengan hiburan lain. Salah satu genre yang
potensial pada sastra anak adalah genre fantasi karena mampu menghadirkan dunia
imajinatif sekaligus memikat.
Fantasi bukan sekadar pelarian dari
realitas dalam dunia sastra, tetapi sarana penting dalam perkembangan kognitif
dan emosional anak. Fantasi memungkinkan anak untuk mengeksplorasi pengalaman
baru, memahami konflik, serta mengembangkan daya imajinasi. Farah Mendlesohn
sebagai penulis buku Rhetorics of Fantasy dan Children’s Fantasy
Literature: An Introduction mengemukakan fantasi dibagi menjadi empat
kategori, yakni the portal-quest fantasy (fantasi portal petualangan),
the intrusion fantasy (fantasi gangguan), the immersive fantasy (fantasi
imersif), dan the liminal fantasy (fantasi ambang). Kategori ini
membantu peneliti mengkaji bagaimana dunia fantasi diperkenalkan dan
berinteraksi dengan dunia nyata dalam sebuah cerita.
Salah satu kategori fantasi yang
sering muncul dalam cerita-cerita fantasi anak adalah the portal-quest fantasy
(fantasi portal petualangan). Kategori ini menceritakan tokoh utama yang berasal
dari dunia nyata lalu memasuki dunia lain melalui suatu “portal” tertentu.
Portal tersebut dapat berupa benda, tempat, atau peristiwa khusus yang menjadi
penghubung antara dua dunia. Setelah memasuki dunia baru, tokoh akan mengalami
serangkaian petualangan yang menguji kemampuan, keberanian, dan nilai kehidupan
yang dimiliki tokoh. The portal-quest fantasy memberikan pengalaman
naratif yang menarik karena pembaca diajak mengikuti perjalanan tokoh dari
situasi yang familiar menuju dunia yang asing.
The portal-quest fantasy (fantasi portal petualangan) sering kali dikemas dengan cara yang penuh
dengan keajaiban. Anak sebagai pembaca dapat dengan mudah mengidentifikasi dirinya
dengan tokoh utama yang awalnya berada dalam dunia nyata. Ketika tokoh tersebut
memasuki dunia baru, pembaca ikut merasakan keajaiban sekaligus kebingungan
yang dialami tokoh. Hal ini menciptakan keterlibatan emosional yang kuat dan menjadikan
cerita menjadi lebih hidup.
Pola portal yang ditemukan dalam
cerita anak sangat bervariasi, bergantung pada kreativitas penulis dan
kebutuhan naratif cerita. Salah satu pola yang umum adalah portal berupa benda,
seperti buku, cermin, atau brosur. Portal lain dapat berupa tempat, misalnya
hutan, sekolah, atau ruangan tertentu yang memiliki pintu rahasia menuju dunia
lain. Pola dalam the portal-quest fantasy juga dapat diamati adalah
proses perpindahan dan adaptasi tokoh dalam dunia baru. Perpindahan tokoh dalam
banyak cerita terjadi secara tiba-tiba sehingga tokoh mengalami kebingungan dan
harus belajar memahami lingkungan baru. Proses adaptasi ini menjadi bagian
penting dari alur cerita, karena kemampuan emosional tokoh mulai berkembang dalam
menghadapi konflik dan menyelesaikan misi. Pola ini memberikan ruang bagi
penulis untuk memperkenalkan dunia fantasi secara bertahap kepada pembaca
sehingga tidak terasa patah dan membingungkan. Salah satu contoh the
portal-quest fantasy terdapat pada Seri Anak The School for Clairvoyant karya
Anala Lashita. Tokoh utama dalam cerita tersebut masuk ke sekolah sihir melalui
brosur dan pulau terpencil.
“Pak, ini benar di pulau itu ada sekolah?” Papa bertanya kepada
pemilik perahu yang akan mengantar mereka ke seberang. “Iya, benar, tapi saya
dengar, tidak setiap orang bisa masuk ke sana kecuali mereka membawa brosur
yang mereka dapatkan.” “Mama bawa brosurnya, kan?” “Bawa, kok!” “Jadi, maksud
Bapak, nggak setiap anak bisa masuk ke sana?” "lya, brosur yang mereka
dapatkan semacam undangan untuk bisa masuk ke sana." Papa, Mama, dan
Xeanee saling berpandangan.
(Lashita, 2025:33)
Sekolah dalam cerita anak tersebut
digambarkan sebagai tempat yang memiliki sistem seleksi khusus dan brosur
memiliki fungsi simbolis sebagai penanda akses. Kutipan tersebut menunjukkan
adanya pemisahan antara dunia biasa dan dunia fantasi yang memiliki aturan
berbeda. Pulau tempat sekolah berada berperan sebagai ruang khusus yang tidak
dapat diakses secara bebas, sedangkan brosur menjadi sarana penghubung antara
dunia awal tokoh dengan dunia baru tersebut. Situasi ini menandai adanya ambang
batas yang harus dilewati tokoh sebelum memasuki dunia dengan sistem yang
berbeda dari dunia sebelumnya. Setelah memasuki pulau tersebut, tokoh utama
akan masuk ke dalam sekolah sihir yang memiliki sistem dan aturan berbeda
dengan sekolah di dunia nyata.
Contoh the portal-quest fantasy
yang berbeda dapat ditemukan pada novel lokal lain, yakni Rahasia di Balik
Lukisan karya Djokolelono, ditunjukkan oleh tokoh utama, Tatang, yang masuk
ke dunia lukisan. Novel-novel populer dunia seperti Alice in Wonderland karya
Lewis Carroll—tokoh Alice masuk ke sebuah lubang dan masuk ke dunia ajaib dan
seri novel Harry Potter karya J.K. Rowling—tokoh utama masuk ke sekolah
sihir melalui stasiun—juga termasuk pada the portal-quest fantasy. Variasi
pola ini menunjukkan fleksibilitas the portal-quest fantasy dalam
membangun alur cerita.
Kehadiran the portal-quest
fantasy dalam cerita anak memiliki fungsi penting dalam membangun alur
cerita. Kehadiran portal menjadi titik awal konflik atau peristiwa penting yang
menggerakkan cerita. Cerita dapat berkembang dari situasi awal menuju rangkaian
peristiwa yang lebih kompleks melalui pemaparan perpindahan dunia. Umumnya the
portal-quest fantasy berkontribusi pada alur maju, yakni peristiwa-peristiwa
yang disusun secara kronologis dan saling berkaitan. Hal ini memudahkan anak
dalam mengikuti jalan cerita sekaligus memahami hubungan sebab-akibat
antarperistiwa.
Selain memiliki fungsi secara
struktural, the portal-quest fantasy memiliki fungsi edukatif bagi
pembaca. Anak dapat belajar tentang nilai-nilai seperti keberanian, kerja sama,
kejujuran, dan tanggung jawab, melalui perjalanan tokoh di dunia lain. Dunia
fantasi yang berbeda memberikan ruang agar penyampaian nilai-nilai tersebut tidak
secara eksplisit. Anak dapat memahami pesan moral melalui pengalaman hidup
tokoh. Dengan demikian, the portal-quest fantasy menjadi salah satu
kategori cerita fantasi yang efektif dalam pendidikan karakter.
The portal-quest fantasy juga berfungsi sebagai sarana pengembangan imajinasi dan
kreativitas anak. Dunia baru yang dihadirkan dalam cerita membuka ruang bagi
anak untuk membayangkan hal-hal yang tidak ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini penting dalam perkembangan kognitif, karena imajinasi
berkaitan erat dengan kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah. Ketika
anak banyak membaca cerita fantasi, mereka akan lebih mudah berpikir di luar
kebiasaan dan menemukan solusi inovatif dalam menghadapi masalah di dunia nyata.
Secara keseluruhan, the
portal-quest fantasy sebagai salah satu kategori cerita fantasi memiliki
peran yang penting dalam sastra anak. Tidak hanya sebagai elemen yang
memperkaya alur cerita, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pengembangan
imajinasi. Di tengah tantangan rendahnya minat baca, cerita fantasi dengan pola
portal menawarkan daya tarik yang kuat bagi anak. Oleh karena itu, penting bagi
penulis, pendidik, dan peneliti untuk terus mengembangkan dan memanfaatkan potensi
cerita fantasi dalam mendukung perkembangan sastra anak dan peningkatan
literasi.
Referensi
Djokosujatno, A. (2005). Cerita
Fantastik dalam Perspektif Genetik dan Struktural. Jakarta: Djambatan.
Lashita, A. (2025). The School
for Clairvoyant. Yogyakarta: C Klik Media.
Lashita, A. (2025). The School
for Clairvoyant 2. Yogyakarta: C Klik Media.
Mendlesohn, F. (2008). Rhetorics
of Fantasy. Middletown: Wesleyan University Press.
Nurgiyantoro, B. (2024). Sastra
Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Todorov, T. (1973). The Fantastic A Structural Approach To A Literary Genre. London: The Press of Case Western Reserve University.
Penulis
Putri Nurul Azizah juga dikenal dengan nama pena Savariya. Tergila-gila dengan cerita horor dan cerita anak. Penulis 14 buku antologi bersama, antologi cerpen Sisik Melik (2019), novel digital Mustaka Ke-13 (2019), novel Tiyang Langking (2022), cerita anak dwibahasa Using-Indonesia Gandrung Cilik (2024) & Umah Kemiren (2025). Bisa berkenalan melalui akun Instagram @sava.riya.
