Puisi-Puisi Mashuri

 

DARAH LAUT

 

kureguk darah laut menggelora

meski pesisirku lebam oleh khianat

waktu dan munajat yang rapuh

sebab ibu purbaku berkebaya api

ayah azaliku bersarung badai

 

"ya marajaya jaramaya

ya marani niramaya

ya midosa sadomiya

ya...."

 

pada tanah merah

kukuburkan ketakutanku

seperti bocah gembala

melarung jasad serigala di hulu

 

pada lobang langit

kusemburkan bisa bara

seperti naga bangkit

dari puing biara

 

di depanmu, aku tegak berdiri

bukan untuk kalah dan mati!

 

Surabaya, 2026

 

 

 ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 



MEMASAK DI LANGITAN

 

1/

Kau mengirimkan sekantong beras

Seikat ikan, dan doa sederhana tapi bernas

: "Nyalakan apimu ketika tungku

   Telah tersedia kayu

   Kau tak perlu menitikkan air mata

   Atas nama rindu..."

 

Aku pun melipat bara di ujung sarung

Seperti petarung masa lalu menyarungkan duwung

Pada kedung, aku berkaca dan menimba air

Pada kebun, aku menanam benih kangkung dan menganyam syair

Pada unggun, aku mengutip kehangatan dan tuah petir

 

Kau mengirimkan sekantong beras

Seikat ikan, dan doa sederhana tapi bernas

: "Nyalakan apimu ketika tungku

   Telah tersedia kayu

   Kau tak perlu menitikkan air mata

   Atas nama rindu..."

 

Yeah, aku tak mungkin pulang

Sebelum kualiku tanak

Dan kerinduanku beranak-pinak

 

2/

Nasi putih, cah kangkung, dan ikan asin

Tersaji di piring

Ada aku, seekor kucing,

Dan kenangan yang buru-buru berpaling

 

3/

Kau telah bergasing

Ke alam lain

Adakah kau masih menghidu

Aroma masakanku

Yang penuh bumbu rindu

 

Buduran, 2026

 

 …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… 


 

PADA RAMBUTMU YANG BASAH

 

Pada rambutmu yang basah

Seorang lelaki telah menamatkan biografinya

Kau bercakap cinta sambil mengunyah kacang

Tanah ---di bawah gerimis musim ketiga

Dengan menghunus pedang bermata tiga

: Setia, khianat, dan perlawanan

Segarang Jonggrang mengatupkan gerbang perasaan

 

"Apa yang tersisa dari persekutuan musim

Kecuali kisah pilu dan bilur biru

              Pada jisim"

 

Segala pintu membatu

Luka masa lalu menjelma kotak pandora

          Dikutuk waktu

Kau pun menuruni lembah rembulan

          Mewariskan bayang-bayang

          Hantu

          Hitam

 

Buduran, 2026

 

 

Penulis

Mashuri

lahir di Desa Wanar, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan. Bershio Naga. Jebolan dua pondok pesantren di kota kelahirannya. Alumnus Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, dan sekarang sedang merampungkan S3 di Universitas Indonesia. Selama ini dikenal sebagai penulis dan peneliti. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, naskah drama dan karya jurnalistik. Kini berhikmat sebagai peneliti di Pusat Riset Manuskrip, Literatur dan Tradisi Lisan (BRIN)

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak