Ini! Dalam berita diskusi
novel Dari Dalam
Kubur[i] yang disiarkan radarsurabaya.id, Soe Tjen Marching menegaskan bahwa karyanya adalah novel fiksi, bukan buku sejarah[ii]. Namun
demikian, di beberapa laman
yang memuat pembahasan novel tersebut, baik dalam forum diskusi maupun ulasan, Dari Dalam Kubur selalu dibicarakan dalam kaitannya dengan sejarah 1965, persoalan gender, dan persoalan etnis. Seperti dalam banyak pembahasan karya sastra lainnya, Dari
Dalam Kubur nyaris tak pernah dibicarakan secara layak
sebagai fiksi. Pada satu sisi, situasi ini terjadi karena karya sastra sebagai fiksi
telah kehilangan spesifitas karena konvensi atau norma yang menjadi
dasarnya telah lama runtuh, sehingga karya sastra dapat dengan brutal diacu sebagai cerminan
realitas begitu saja. Pada sisi lain, runtuhnya konvensi atau norma yang mendasari karya fiksi
telah mendorong munculnya berbagai teori dan konsep – dari sosiologi, psikologi, sampai bahasa–bersaing untuk menggantikan konvensi yang telah runtuh tersebut.
Tulisan pembahasan ini diniatkan untuk meletakan Dari Dalam Kubur sebagai fiksi dalam situasi runtuhnya konvensi yang mendasarinya. Tentu saja, pembahasan ini berarti bukan berupaya membandingkan cerita Dari Dalam Kubur dengan konvensi sastra atau teori apapun yang dapat membuahkan pujian atau celaan. Daripada menelaah Dari Dalam Kubur dari atas, tuisan ini akan berupaya mengidentifikasi apa yang telah terjadi dalam cerita Dari Dalam Kubur agar dapat dikonstruksi menjadi bentuk kehidupan yang dapat dirasakan dan dapat dipikirkan sehingga suatu tindakan politis dapat dimungkinkan terjadi
Ingatan-ingatan . . . alangkah jahanamnya
Seperti impian Bernard, salah seorang tokoh
dalam The Waves (1931) karya Virgina
Woolf, tentang seutas benang yang berkelana dan dengan mudah menghubungkan satu hal dengan hal lain[iii], novel Soe Tjen Marching, Dari Dalam Kubur, adalah ingatan-ingatan yang dihubungkan
oleh utas benang yang tak kasat
mata. Sejenis benang yang dapat ditarik kata-kata yang disusun
dalam bentuk fiksi. Maksudnya, bagaimana kata-kata dapat menghubungkan antara satu fakta dengan fakta lainnya dan dengan kapasitasnya dapat mengatakan tentang kebenaran akan fakta-fakta tersebut dengan cara itu. Fiksi, menurut
sistem representasi mimetik Aristoteles adalah
pengaturan tindakan-tindakan yang dihubungkan oleh kesemestian atau kesebenaran.
Oleh karena itu, menurut Aristoteles
dalam Poetic, fiksi lebih filosofis dari pada sejarah; bila sejarah hanya
berurusan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi secara berurutan atau “apa adanya”, fiksi berurusan dengan peristiwa-peristiwa
yang mungkin terjadi
menurut hubungan sebab-akibat berdasarkan prinsip kesemestian atau kesebenaran. Dua cara keterhubungan peristiwa-peristiwa,
berurutan dan kausal, mengimplikasikan dua cara menjalani hidup yang memilah secara politis antara manusia golongan atas (elit) dan manusia golongan rendah (jelata). Individu-individu dalam kelompok elite menjalani cari hidup
dengan merancang cita-cita besar dan berusaha mencapainya sehingga memungkinkan terbentuknya skenario dramatis melalui pergeseran dari kemalangan ke keberuntungan atau dari kejahiliahan ke keberpengetahuan. Pada sisi lain, para
jelata menjalani cara hidup sekedar secara
“alamiah” dengan mengikuti pergeseran dari kelahiran
ke reproduksi ke mati atau sekedar menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu ada hubungan yang kuat antara mode terhubunganya peristiwa-peristiwa dengan pembagian posisi
sosial di dalam masyarakat. Kesemestian atau kesebenaran bukan hanya berkaitan dengan
dampak yang diharapkan dari sebab yang sudah ada, tapi juga berkaitan dengan apa yang
diharapkan dari individu yang hidup dalam kondisi tertentu. Dengan mode tersebut sastra atau
fiksi dalam konvensi klasik Aristotelian, sistem representasi mimetik, terpilah secara hirarkis
menjadi genre epik/tragedi dan komedi/parodi . Epik/tragedi merepresentasikan manusia elit
yang memiliki cita-cita besar dan berusaha untuk mencapainya melalui
tindakan-tindakan yang terkoordinasi secara kausal seraya bergelut melawan hasrat-hasrat rendahan dan pukulan keberuntungan dengan konsekwensi keberhasilan dan kemalangan sebagai takdir kausalitas dari
tindakannya sendiri. Sementara komedi/parodi merepresentasikan manusia
jelata yang sekedar
bertindak tanpa tertata secara kausal atau bertindak konyol sehingga pantas ditertawakan.
Namun Dari Dalam Kubur bukan milik konvensi klasik fiksi, Dari Dalam Kubur adalah novel,
fiksi modern yang berada di luar hirarki genre. Dalam esai
“Modern Fiction” (1925), Virginia Woolf menyebut konvensi adalah tirani; jika penulis modern adalah orang bebas, bukan budak,
jika penulis modern dapat bebas memilih apa yang ia tulis dan tidak
menulis yang sudah
ditentukan, jika penulis modern dapat membasiskan karyanya pada perasaannya sendiri dan tidak
membasiskan karyanya pada konvensi, maka tidak akan ada plot, tidak akan ada tragedi, tidak
akan ada komedi, tidak akan ada hasrat cinta dan
malapetaka dalam gaya atau bentuk
yang diterima[iv]. Sebagai fiksi
modern, pemberontakan pertama Dari Dalam Kubur yang akan
berimplikasi luas pada keseluruhan penceritaannya adalah pemberontakan terhadap reka-
penokohan (inventio) konvensional. Tokoh Djing
Fei yang sekaligus Lydia Maria tidak hanya melanggar aturan proper name (nama historis
atau nama tipe)yang merelasikan nama-diri tokoh
dengan ruang sosialnya dalam masyarakat sebagai situs mengada yang menentukan bagaimana ia
harus bertindak dan berbicara. Djing Fei dan Lydia Maria yang menyatu dalam satu tubuh juga bukan hanya melambangkan simultanitas masa lalu dan masa kini bersama dengan segala
tekanan politis
yang menyertai penyandangannya. Djing
Fei yang bercita-cita menegakkan keadilan dan Lydia Maria yang ingin memenuhi kebutuhan keluarga yang hidup dalam satu tubuh adalah meleburnya kehidupan elit dan kehidupan jelata. Jika berdasarkan konvensi
kehidupan elit dan jelata terpisah sebagai genre epik/tragedi dan komedi/parodi, Djing/Lydia merupakan bauran antara kehidupan sebagai temporalitas yang terstruktur secara sekuensial dan logis yang dapat diproses menjadi pengetahuan dan dapat diubah menjadi instrumen tindakan dan
kehidupan sebagai temporalitas yang berurutan dan berulang yang membuatnya terombang- ambing antara kepasrahan terhadap masa kini yang selalu identik, nostalgia masa lalu, dan ketaksabaran menunggu penghakiman masa depan.
Cerita Dari Dalam Kubur yang membaurkan dua kehidupan berbeda secara hirarkis berimplikasi ganda pada
jenis tindakan tokoh-tokohnya; tindakan tak bermakna yang
direpresentasikan oleh orang-orang kampung dan tindakan semu yang direpresentasikan oleh tokoh-tokoh yang berada dalam lingkaran Djing Fei. Oleh karena itu
keinginan Karla untuk
membunuh mamanya tidak pernah melahirkan tindakan pembunuhan yang sesungguhnya, tapi
hanya preparasi pembunuhan dengan mendeskripsikan kekecewaan dan kebencian Karla terhadap mamanya secara berkepanjangan sampai kekecewaan dan kebencian tersebut
diredupkan oleh preparasi balas dendam Djing Fei dengan mengungkapkan ingatan-ingatan
penderitaan tentang penyiksaan tubuh
yang diterimanya juga implikasi mentalnya yang mendasari perbuatan-perbuatannya. Buku Harian Djing Fei yang merupakan preparasi balas dendam untuk menegakkan keadilan menyosok sebagai tokoh
Liang Han/ Handoko yang tidak
melakukan tindakan apapun sepanjang cerita kecuali menyembunyikan diri dan makan pecel Pandegiling di bagian akhir. Sebagaimana Liang Han/Handoko, An Dong/Katon yang juga
menjadi saksi atas penderitaan Djing Fei juga tidak melakukan tindakan bermakna di sepanjang cerita kecuali menjadi sekongkol mamanya untuk
memata-matai Karla, adiknya sendiri, dan
Romo Justin. Meskipun keduanya berempati atas penderitaan Djing Fei, tapi empati tersebut tidak melahirkan pembelaan yang memungkinkan tindakan balas dendam Djing Fei terlunaskan.
Tidak ada pembunuhan terhadap mama sendiri
yang dilakukan Karla, tidak ada balas
dendam atas penderitaan untuk menegakkan keadilan yang dilakukan Djing Fei. Dengan demikian
tidak ada skenario dramatis yang terbentuk dari tindakan-tindakan untuk mewujudkan
pembunuhan dan balas dendam yang dapat berakhir dengan kemalangan atau keberhasilan. Segalanya berakhir dengan janji Liang Han/Handoko untuk pergi ke rumah anaknya, An
Dong/Katon, untuk bercakap dengan cucunya, “Mau ngobrol sama Ira”. Seluruh novel adalah
preparasi pembunuhan dan balas dendam yang disusun dari ingatan demi ingatan. Tapi Ingatan-
ingatan tersebut tidak pernah benar-benar hadir sebagai ingatan apa adanya kecuali dalam bentuk verbalnya: kata-kata yang dirangkai untuk menggambarkan kembali peritiswa-peristiwa yang telah
lalu dan mengungkapkan pemerasaan terhadapnya
untuk mendasari suatu tindakan yang diharapkan dapat melahirkan masa depan yang diinginkan.
Cerita Dari Dalam Kubur mengalami kerusakan dalam jalinan kausal rangkaian tindakan-tindakan atau peristiwa-peristiwa, hilangnya konektivitas antara pikiran dan tindakan.
Tidak ada tragedi pembunuhan mama oleh anaknya sendiri yang disebabkan oleh tujuan keadilan sang mama yang tidak pernah terancang dan terterapkan sebagai tindakan-tindakan yang
terkoordinasi secara kausal atau selalu saja diganggu oleh hasrat-hasrat lain yang bertentangan dan tidak pernah dikalahkan. Sebagaimana juga tindakan balas dendam sang mama yang hanya
tertanam sebagai kata-kata dalam buku harian yang terus direproduksi
dari Djing Fei ke Wulan
ke Ira ke Soe Tjen
Namun kerusakan jalinan kausal ini telah ditakdirkan sejak penetapan reka-
penokohan yang membaurkan cara hidup elit
dan
jelata dalam diri Djing Fei/Lydia Maria yang melambangkan keruntuhan cara hidup kuno yang memilah secara hirarkis antara manusia elit dan jelata yang menyertai terpenggalnya kepala raja dan pangeran; kehidupan demokrasi.
Kehidupan yang ditandai oleh serbuan masa awanama merebut panggung yang ditinggalkan oleh raja dan pangeran. Kehidupan sebagai temporalitas harapan dan kekecewaan, temporalitas
keberhasilan dan kegagalan. Harapan dan ketercapaian atau ketaktercapaiannya itu kini saling
silang berkelindan untuk semua orang dalam rentang waktu kelahiran dan kematian, masa muda
dan
masa tua, yang merupakan waktu hari-hari yang silih berganti, rangkaian persepsi dan kasih sayang yang menjadi situs bagi individu untuk berusaha membentuk identitas diri mereka sendiri
dan
berinteraksi satu sama lain. Kehidupan yang bagi Virginia Woolf diungkapkan sebagai hujan
atom yang tak terhitung jumlahnya yang membuat pikiran menerima bertubi-tubi kesan yang
remeh, cepat berlalu, fantastis atau terpahat setajam dan seawet baja yang membentuk kehidupan sehari-hari; kehidupan yang bukan serangkaian lampu yang tersusun rapi, tapi lingkaran cahaya yang berpendar[v]. Lingkaran cahaya yang berpendar itulah
bentuk totalitas kehidupan baru yang
tidak teranyam oleh tirani jalinan kausalitas, tapi terbentuk oleh keserempakan kehadiran yang
menjadi ruang jatuhnya peristiwa
sehari-hari dan pemerasaan terhadapnya . Dalam totalitas baru itulah kehidupan sehari-hari yang direpresentasikan Dari Dalam Kubur hadir sebagai jalinan
pengalaman dalam asosiasi pikiran dalam pikiran dimana keberadaan kebenaran terletak di balik
ketidakpastian hukum sebab akibat.
Namun demikian bentuk totalitas kehidupan semacam ini juga menyediakan tempat di
relung ketidakpastiannya bagi tirani lain yang mendorong
kata-kata terus
menyeret dirinya keluyuran mencari takdir keterkabulannya sendiri dalam situasi putusnya konektivitas antara pikiran dan tindakan. Sebagaimana teater yang dikosongkan dari skenario dramatisnya, International People’s Tribunal ’65 menyeret dirinya sendiri keluyuran sebagai kata-kata sejak
[ii] https://radarsurabaya.jawapos.com/hobi-lifestyle/2606020029/soe-tjen-marching-mudik-ke-surabaya-ajak-mahasiswa-bahas-novel-dari-dalam-kubur
[iii] Virgina Woolf, The Waves,
Hogarht Press, 1960, hlm. 35.
[iv] - , “Modern Fiction” dalam Common Reader, A Harvest Book, 1953,
hlm. 154.
[v] Ibid
(Disampaikan pada acara Diskusi Publik dan Refleksi Kritis “Dari Dalam Kubur” di Aula FIB UNEJ tanggal 11 Juni 2026)
Bionarasi Penulis
Dwi Pranoto lahir di Banyuwangi. Setahun bekerja di sebuah perusahaan pelayaran yang beroperasi di selat Bali kemudian mukim beberapa bulan di Cilegon sebelum menghabiskan masa ±8 tahun di Jakarta. Selama tinggal di Jakarta sempat berteater bersama Teater Tanah Air dan Kelompok Teater Kami. Kembali ke Banyuwangi untuk kurang lebih setahun lantas pindah ke Jember. Menerbitkan berkala seni & budaya Lepasparagraf (hanya sampai nomor 6) dan mendirikan Kelompok RumahKata. Puisinya dimuat antara lain di antologi bersama Cerita dari Hutan Bakau (Pustaka Sastra, 1994), dan Lelaki Kecil di Terowongan Maling (Melati Press, 2013). Buku puisi tunggalnya Hantu, Api, Butiran Abu (Gress, 2011). Karya terjemahannya Piramid (Marjin Kiri, 2011), novel karya Ismail Kadare. Esai kritik sastranya “Puisi-Puisi Afrizal Malna: Bahasa yang Diam-Diam Meninggalkan Tubuh” memenangkan Sayembara Kritik Sastra Badan Bahasa tahun 2020.
