Puisi-Puisi yang Sedang Tertidur Nyenyak di Bakul Kecil Ibu



 

Karya Silivester Kiik

Suatu malam, aku melihat kata-kata itu menjadi hidup,

sebelum berubah menjadi debu di ujung waktu,

sebelum kehilangan lidahnya sendiri

di tengah hiruk pikuk kehidupan

yang tak sempat mendengar bait-bait doa.

Di rumah yang dindingnya setua kenangan,

ibu menyimpan sesuatu

yang tak pernah ia sebutkan dengan lantang—

sebuah bakul kecil yang terbuat dari anyaman daun lontar,

retak di beberapa tempat,

tetapi tetap setia merangkul keheningan

seperti rahim yang tak pernah mengeluh.

Di sana, katanya,

puisi-puisi ibu tertidur nyenyak.

Awalnya aku tak percaya,

karena bagiku puisi adalah sebuah suara,

adalah bara api yang jatuh dari mulut seorang penyair,

adalah angin yang mengingat

nama-nama kesedihan manusia.

Namun ibu hanya tersenyum,

senyum seperti matahari terbenam di desa kecilku:

lambat, luas, dan menyimpan rahasia

yang tak ingin dijelaskan.

Dengarkan,” katanya,

bukan dengan telingamu,

tetapi dengan luka yang kau sembunyikan.”

Malam itu, bakul kecil itu terbuka perlahan,

seperti buku tua yang enggan dibaca ulang.

Dan benar saja—

aku mendengar sesuatu yang bukan suara,

tetapi kenangan yang bergetar

di antara serat-serat daun lontar.

Puisi-puisi itu tertidur,

berbaring seperti anak-anak

yang lelah setelah menangis terlalu lama.

Beberapa memeluk kata-kata yang patah,

beberapa menggenggam huruf-huruf

yang tak pernah membentuk kalimat lengkap,

beberapa hanya diam,

seperti doa-doa yang tersesat.

Ibu berkata:

setiap puisi di dalam bakul kecil ini adalah masa lalu

yang tak tertulis,

air mata yang tak jatuh ke tanah,

dan cinta yang terlalu kecil untuk menjadi nyata.”

Aku melihat sebuah puisi dengan wajah ayahku—

yang telah pergi seperti hujan yang tak pernah kembali ke langit,

meninggalkan tanah retak di dada ibuku

yang masih ditanami harapan setiap pagi.

Aku melihat puisi lain seperti sekolah tua,

dengan lonceng berdering seperti jantung masa kanak-kanak,

ketika dunia belum mengenal kata “kehilangan,”

dan jalan pulang selalu lebih singkat daripada kerinduan.

Di sudut bakul kecil itu,

ada sebuah puisi yang berbau laut,

bergetar lembut,

seperti perahu kecil yang takut mengingat badai.

Ibu berkata:

itu adalah janji-janji yang telah diikrarkan seseorang,

tetapi tenggelam sebelum mencapai pelabuhan.

Aku ingin menyentuhnya,

tetapi ibu memegang tanganku.

Jangan membangunkan mereka,” katanya lembut,

karena tak semua kenangan ingin hidup kembali.

Tetapi malam selalu memiliki kelemahan:

terlalu jujur ​​dalam keheningannya.

Dan aku, tanpa sengaja,

mendengar sebuah puisi menguap lembut—

seperti daun yang jatuh tanpa disadari pohonnya.

Puisi itu berbisik:

kita tak mati,

kita hanya menunggu

untuk dilupakan dengan lembut.

Aku terdiam.

Sebab tiba-tiba aku mengerti,

bahwa bakul kecil itu

bukan hanya wadah untuk menyimpan segala luka dan air mata,

tetapi tempat pertemuan

antara yang hilang

dan yang belum ditemukan.

Ibu kemudian duduk di sampingku,

tangannya seperti peta,

penuh dengan jalan pulang yang belum lengkap.

Ia berkata:

hidup seringkali tak menuliskan semua yang dirasakannya,

jadi ia menyimpannya di tempat-tempat yang paling sunyi:

di dalam bakul kecil itu, di dadanya, di antara doa-doa.

Dan malam itu,

aku menyadari,

bahwa setiap manusia membawa bakulnya sendiri,

penuh dengan puisi-puisi yang tertidur,

penuh dengan nama-nama yang tak pernah dipanggil,

penuh dengan peristiwa-peristiwa

yang hanya berani hidup dalam mimpi.

Ibu menutup bakul kecil itu lagi.

Perlahan.

Seperti menutup mata seorang anak yang baru belajar kehilangan.

Di luar, angin berhembus tanpa suara,

seperti seorang penyair

yang telah melupakan puisinya sendiri.

Dan aku pulang,

dengan dada yang tak lagi sama.

Karena aku tahu,

di setiap rumah,

selalu ada bakul kecil ibu yang lain,

sebagai tempat puisi-puisi tertidur lelap—

dan menunggu suatu hari nanti

untuk diingat

atau dilupakan

dengan cara yang paling manusiawi:

perlahan,

dan dengan cinta

yang tak pernah sempat diubah menjadi puisi.

Atambua-NTT, 20 Juni 2026


Biodata:

Silivester Kiik, adalah guru, penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, Pengurus FTBM Kabupaten Belu, anggota aktif FTBM Propinsi NTT dan Penggiat Literasi Perbatasan. Karyanya antara lain buku puisi dan buku pendidikan: “Amor (2020); DEBU dan Sebuah Pesan yang Belum Sempat Terbaca Oleh Rembulan (2020); Menabur Matahari (2020); Inovasi Pembelajaran Geografi Zaman Now (Suatu Penerapan dalam Model Pembelajaran Outdoor Study, Gaya Belajar, dan Kemampuan Berpikir Spasial Siswa) (2020); Gadis-Gadis Sutra yang Membawa Selendang Melarikan Diri Mencari Kesunyian (2022)” dan lainnya. Turut menyumbang puisi bersama dalam puluhan buku antologi bersama baik lokal, nasional maupun mancanegara. Pada tahun 2025 tergabung dalam beberapa buku antologi lintas negara yakni: “Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII 2025 Jakarta (Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand) “Layang-Layang Tak Memilih Tangan (2025); Temu Karya Serumpun 2015 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Timor Leste) “Semesta Ingatan Trauma dan Imaji Kebebasan (2025); Antologi Puisi Penyair Indonesia, Singapura, Turki “Tanda Cinta Bagi Korban Bencana Sumatera (2025); Book Poetry Soup (Australia, Bangladesh, Belgia, Bhutan, Botswana, Kamerun, Kanada, Prancis, Ghana, Yunani, Hongaria, India, Indonesia, Republik Islam Iran, Irlandia, Italia, Jamaika, Kenya, Malta, Mauritius, Nepal, Belanda, Selandia Baru, Nigeria, Niue, Norwegia, Filipina, Arab Saudi, Republik Slovenia, Afrika Selatan, Sri Lanka, Swaziland, Republik Arab Suriah, Thailand, Tunisia, Turki, Uganda, Inggris Raya, Amerika Serikat, Zambia, dan Zimbabwe) “Diverse Voices: The Poetry of Human Rights and the Pursuit of Peace (2026)”. Penulis tinggal di Kota Perbatasan Indonesia–RDTL (Atambua)-NTT. Alamat Email: kiiksilivester@gmail.com; Instagram: @silivester_kiik; Facebook: Silivester Kiik.

 



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak