Kriminalitas Ketakutan Joker dan Sukri

 


 Karya Taufiq Wr.  Hidayat 


Kriminalitas dalam cerita-cerita Hamsad Rangkuti, bukan peristiwa jenak yang kemudian dilupakan, dan berlalu. Ada kejahatan yang diabadikan. Membangun kriminalitas dalam sastra, agaknya ganjil. Kalau tidak, peristiwa kriminal sekeji apa pun, setidaknya kini, menjelma informasi jenak, ditinggalkan bagai sepah setelah orang scroll layar sentuh di tangan. Lalu lupa, tertimbun potongan-potongan informasi lain dari seluruh alam semesta. Tak dapat diingat lagi.

Cerita-cerita Hamsad Rangkuti, rupanya menjaring fakta dari kejahatan manusia. Insiden-insiden aneh. Di situ, kriminalitas bukan jenak informasi, melainkan gejala sejarah. Apa yang paling terpendam dalam diri manusia, pun apa yang paling biadab dari nasib. Kemiskinan, kekuasaan, dan omong kosong. Realitas itu melewati semacam museum bahasa. Menulis kriminalitas dalam sastra, bukan kriminal. Sebab dalam sastranya, ia meracau perihal ketimpangan. Mungkin juga olok-olok. Dalam kenyataan hari ini, pembatasan kekuasaan pada media, diwujudkan dengan benturan informasi. Ada yang membela, ada yang mendukung, ada malaikat dan iblis. 

Di mana sastra? Agaknya sastra perlu tiba menjadi bentuk yang mengatasi fakta kriminal. Mungkinkah ia dibaca dengan begitu hangat sehangat orang melihat (bukan membaca) informasi yang saling bertabrakan pada sehelai layar, menemui peristiwa kriminalitas yang telah, sedang, dan akan terus berlangsung?

Cerita-cerita Hamsad Rangkuti banyak menggunakan narator orang ketiga. Seperti cerita-cerita kriminal O Henry. Narator orang ketiga dalam cerita-cerita O Henry, seolah “yang paling tahu”. Tetapi rangkai narasi selalu terpusat pada perbuatan tokoh-tokoh, dialog, dan fakta. Bukan apa yang menancap dalam pikiran mereka. Orang ketiga dalam cerita-cerita itu, sangat bisa memasuki pikiran dan karakter tokoh-tokoh. Tapi si orang ketiga bukan “yang paling tahu”, ia lebih bagaimana realitas diurai dalam kesadaran.

Namun mungkinkah kesadaran fakta itu membantah sikap yang tak semestinya---baik orang atau lembaga---pada peristiwa kriminal hari ini? Setelah kita menyaksikan banyak peristiwa kriminal, apakah sikap dan perlakuan terhadapnya adalah yang semestinya, tak terelak dari fakta? Dan di panggung sehari-hari kehidupan ini, rupanya fakta kriminal selalu bersengketa dengan peristiwa yang harus dipastikan dengan bukti-bukti. Apakah fakta itu ada? Orang mulai ragu. Apa realitas itu? Sesuatu yang dicemaskan Einstein dan Bohr dalam perdebatan perihal realitas sebagai konsepsi di atas fakta dalam fisika kuantum. Ia tak lagi berpikir positif---setelah menanggalkan Hume dan March, terhadap fakta, tatkala ia menulis relativitas.

Seakan ada yang selalu relatif dalam tiap peristiwa kriminal itu, ketika ia dihadapkan pada suatu sikap. Seperti seorang polisi dalam “After Twenty Years” (1905). Dua orang pemuda dalam cerita O Henry, bertemu di suatu tempat yang disepakati setelah 20 tahun kemudian. Dan 20 tahun kemudian, Jimmy jadi polisi. Sahabatnya, Bob, seorang kriminal. Ini realitas. Polisi dan si kriminal adalah sahabat. Tapi sikap harus ditegaskan. Jimmy menyuruh kawannya sesama polisi menangkap Bob. Ia tak sampai hati menangkap sahabatnya sendiri.

Realitas ideal dalam cerita O Henry itu, agaknya tak ingin mengkhianati fakta. Yang satu adalah polisi. Satunya kriminal. Sedang dalam realitas hari ini, status kriminal dan penegak hukum, rancu. Fakta harus sedemikian rupa diperdaya sikap yang tak pernah realistis secara ideal. Tapi bisakah benturan tak terhindarkan itu, mengubah fakta? Yang bagi Dante, mustahil ular jadi manusia dan manusia jadi ular, hanya karena keduanya berpelukan erat dan karib.

Frustasi itu, melahirkan Joker (2019) yang----dalam film garapan Todd Phillips, membenci kenyataan pahit yang terjadi akibat tekanan sosial. Ia mengutuknya sebagai nasib, kesadaran yang selalu percuma dalam pergulatan mutakhir. Baginya, ada kesucian yang tidak tertawa, tanpa sorak-sorai. Di belahan lain, nasib mujur yang berjingkrak-jingkrak. Dosa yang terbahak-bahak menciptakan kriminalitas yang disebut kelaziman.

Dalam kesucian yang tidak tertawa, orang duduk sopan di “kursi eksekusi”, tak bebas. Segalanya dibatasi ketat peraturan, tanpa kopi, tanpa rokok, tanpa makan, tanpa pesta-pora, dan tidak ada uang saku. Siapa mau? Sedang dalam kejahatan yang tertawa terbahak-bahak, orang berposisi semau-maunya, tak ada aturan dan batas obyektif, tanpa rasa bersalah. Di situ pesta pora, makan, rokok, minuman, dan uang saku sangat tebal. Kekuasaan menyihir kejahatan menjadi kelaziman. Kemudian orang bertanya, apa ukuran sebenarnya kriminalitas?

Dalam film Todd Phillips, kejahatan yang terbahak-bahak diwakili Joker. Sedang kebajikan yang tanpa tawa, dipimpin Batman. Kebajikan yang tak pernah terbahak-bahak dan tidak gemar pesta-pora.

Siapa mau?

Joker pun jadi idola. Tak banyak orang mengidolakan Batman secara histeris seperti orang mengidolakan Joker. Seringkali kriminalitas jalanan yang terbahak-bahak, harus dihabisi, dikeroyok dan diadili beramai-ramai. Tapi kriminalitas yang sopan, harus melewati jalan peradilan yang panjang, meski telah fakta, musti disematkan praduga tak bersalah, lalu di ujung proses, dihukum ringan, bahkan dibebaskan. Kemuakan merajelala, secara diam-diam para pengagum Batman, sesungguhnya mengidolakan Joker. Tanpa Joker, tak ada Batman yang juga muncul dari kegelapan. Batman yang menyimpan dendam lain dari kemapanan dan kepatutan, trauma kematian kedua orangtuanya yang kaya raya di tangan orang miskin.

Jika di situ ada Joker, di sini ada Batman. Tapi Joker bukan Fir’aun, dan Batman bukan Musa.

Joker terang-terangan mengumbar kepahitan hidup dan kemuakannya pada kepatutan sosial yang memihak si mujur, kepatutan yang ditegakkan secara praktis para moralis. Kriminalitasnya dicap kriminalitas jalanan. Berbondong orang mengidolakannya. Pemberontakan lain pada kemapanan yang menyihir fakta menurut kehendak kekuasaan. Joker merampok uang negara dengan cara jalanan. Akan tetapi, ia tak menikmatinya. Melainkan membakarnya. Ia hanya hendak menegaskan diri sebagai agent of chaos. Bukan uang dan kekuasaan. Benar-benar cuma kejahatan, tak menutupinya dengan keniscayaan kepatutan. Bahwa hanya dengan begitu---baginya, kepatutan dan hukum yang palsu serta kekejian yang dinormalkan kekuasaan tanpa boleh disentuh, diolok-olok. Ia martir kegelapan. Wajar saja ia menuntut keadilan, bukan uang. Merampas keadilan dengan kekacauan dan kriminalitas jalanan, di tengah hidup yang tak pernah memberikannya keadilan, selain kepalsuan dan kekalahan.

Lalu apa gerangan yang membuat seseorang berharap kematian? Hidup yang tak hidup, kata WS. Rendra. Kehilangan daya untuk menentukan diri sebagai subyek, cuma sasaran bantuan-bantuan palsu yang diselenggarakan kekuasaan. Dan makan. Hidup cuma soal makan. 

Seseorang berharap mati. Tapi kematian tak kunjung menjemput. Bunuh diri tak membuatnya mati. Ia ingin membunuh dirinya sendiri. Namun gagal. Lantaran ada yang masih ingin ia raih, yang belum pernah diraih. Sementara itu, tuntutan hari-hari. Uang air dan kakus. Kebutuhan-kebutuhan cepat yang tiap pagi menagih tanpa ampun. Tak ada jaminan. Sebentuk “dasein” dalam pandangan Heidegger. Tetapi tiap orang melaju sendiri-sendiri.

“I used to think my life was a tragedy, but now i realize it's a comedy," katanya. Ia menulis dalam buku hariannya dengan tata bahasa yang salah. Nasib telah mengubah bahasanya. Beda dengan kekuasaan yang harus ngomong seenak perutnya, dan khalayak harus mengiyakan.

Ia berpikir, hidupnya tragedi. Ketakmujuran-ketakmujuran yang tak ia harapkan. Tapi tak terelakkan. Ketika melihat perbuatan dan pandangan orang terhadap hidupnya, ia tak lebih komedi. Orang melihat kesialan itu di sana. Ada sebentang jarak antara aku dan tragedi: ketakterlibatan. Bagi aku—yang berada dalam jarak dengan tragedi, penderitaan cuma lelucon, kelucuan sehabis makan siang. Atau alat bagi kekuasaan, kebajikan yang tak pernah tertawa.

Pada puncaknya, chaos antara apa yang diandaikan dan realitas, memunculkan tawa. Lelucon. Membuat Joker tertawa ketika tertekan, sedih, melihat kesewenang-wenangan. Ia menangis ketika merasa tenang, sesuatu yang sesungguhnya nyaman. Ia mengutuk kemapanan. Persis Semar dalam khasanah Jawa; “gemuyu nangis, ning nangis gemuyu” (tertawa, tapi menangis, menangis, tapi tertawa), paradoks yang lahir dari keharusan mewujudkan yang ideal. Dan Batman tak pernah terbahak-bahak. Kebajikan selalu merasa aman dengan penanda-penanda moral. Menjadi dingin. Tapi Joker tertawa, pertanda ia menderita, marah, tertindas, tertekan.

Batman gambaran yang rapi dan mapan, yang dingin tanpa kopi. Pertarungan antara keduanya tak usai. Tapi Joker menegas dengan aksinya, kebajikan dan kejahatan tak bisa dipandang sederhana dan gamblang. Kegelapan tak bisa disederhanakan gelap. Begitu pula cahaya, tak sesederhana terang. Moralitas dan agama tak berdaya tatkala sebentuk bangunan yang selesai, tanpa peluang dan kemungkinan.

Gelap dan terang, hitam dan putih tak selamanya berhadapan. Seorang pahlawan tak sepenuhnya suci. Ia dipuja di satu keadaan, dikutuk pada keadaan lain. Kepahlawanan tak lahir dan hidup dalam kebajikan dan moralitas. Di dalam kegelapan—dendam dari yang kalah terbuang, kepahlawanan lahir dengan wajah lain. Ada kemungkinan tak diduga. Saat moralitas jadi penjara.

Kekalahan Joker kekal dalam diri orang. Ia tak bisa disebut kekalahan, karena ia bergerak tanpa tujuan. Kekuasaan dicampakkan, uang dibakar. Ia hanya ekspresi banalitas yang jahanam. Sejatinya ia tertawa sebagai upaya memahami hidup yang tak dapat ia pahami melalui kegetiran dan kegagalan, atau mempertanyakan realitas yang diingkarinya dalam kesemetian yang selalu relatif. Tetapi di balik kekejiannya, ia tetap berharap mengalami mati yang bisa dipahami. Ia mendesah: “kuharap kematianku lebih masuk akal daripada hidupku”.

Ia tetap ingin bermakna dengan hidup tak bermakna, kriminal jalanan yang dikeroyok beramai-ramai tanpa pengadilan. Tapi bagaimana memahaminya dengan pengertian kemanusiaan yang tak belaka komikal? Sesungguhnya ia kesepian. Sedih dengan tawa lebar. Ia hendak mengajak dunia tertawa bersamanya. Itulah yang menghinggapi Sukri saat membawa pisau dalam “Sukri Membawa Pisau Belati” (1990) karya Hamsad Rangkuti. Di masa koneksi keluarga dan perkoncoan menguasai negara, Sukri telah dibully, diperlakukan tak adil, direndahkan karena kegagalannya, hidupnya tak menyimpan masa depan di hadapan kemapanan.

Ketika Sukri berharap hidup berbahagia dengan cinta dan kesetiaan, tenteram damai bersama kekasihnya, ia menghadapi kenyataan, hidup bahagia tak cukup cinta dan kesetiaan. Tetapi pekerjaan, kemudian uang, rumah, perhiasan. Kemapanan. Tak semua orang bahagia, jika orang itu bukan anak atau keluarga siapa-siapa yang mapan, jika orang itu tak punya apa-apa.

Dalam cerpen Hamsad yang mashur, sang kekasih meninggalkan Sukri, berpindah pada lelaki mapan berskuter yang jauh lebih segalanya daripada Sukri, Sukri yang cuma berbekal cinta dan kesetiaan, bukan anak orang berada, bukan orang punya kerja dan uang. Semua kebaikan cuma ejekan. Kedua orangtua kekasih Sukri menolak, tak ingin sang anak gadis menderita bersama laki-laki tidak jelas.

Kendati Sukri bukan Joker. Sukri menyelinap ke balik semak-semak, menyelipkan belati di pinggangnya. Ia melompat ke ruang tamu. Ia marah. Ia mengatakan, mereka cuma melihat benda-benda, tidak melihat hati dan ketulusan cintanya. Belati ditikamkan ke dada kekasihnya, ke dada kedua orangtua kekasihnya, kemudian ke dada laki-laki mapan berskuter yang merebut kekasihnya. Terakhir, Sukri menikamkan belati ke ulu hatinya sendiri. Tragis! Peristiwa itu terjadi berulang-ulang dalam cerita Hamsad Rangkuti. Absurditas klise. Tapi peristiwa itu tak boleh dilupakan dalam tumpukan informasi, ia pun dicatat dalam narasi orang ketiga. Orang ketiga yang tak paling tahu, menjadi pertanyaan tak pernah selesai dalam aksi dan percakapan tokoh-tokohnya.

Setiap pencapaian meminta tumbal. Apakah sejarah bisa menghindari keniscayaan itu? Yang terbuang dan terjatuh dalam sial. Di antara politik yang memuakkan, persaingan yang saling memakan, perang, kriminalitas. Bukankah semua itu berulang-ulang? Dan bukankah itu suatu kelucuan? Sukri ketakutan. Begitu pula Joker.

Yang terkapar dalam ketakberdayaan menertawakan kepatutan palsu, kepatutan tanpa keterlibatan. Tuhan dalam ekstase kekuasaan, ialah yang di sana, di kursi kemegahan, mengawasi tiap gerak-gerik makhluk, menghukum yang terjerembab. Tapi memberkati yang kaya dan berkuasa. Mereka pun kecewa pada khotbah. Menyimpan dendam dan senjata di balik pinggangnya untuk menikam siapa saja, lalu menikam dirinya sendiri.

Dalam ketakutan Sukri dan Joker, pengertian kemanusiaan tak pernah tercipta di tengah hidup yang seolah-olah, kemapanan yang tak menghikmadkan diri pada ketakberdayaan. Kekuatan yang tak menyadari kelemahan di dalam dan di luar dirinya. Repetisi tak terelakkan. Bukankah sejak dulu hingga hari ini pahlawan itu Sang Joker? Atau Sukri? Sosok terbuang dan gelap, melakukan perlawanan dengan caranya sendiri, sebab kepatutan telah menjadi kepalsuan. Tapi yang diam-diam dipuja di dalam diri masing-masing orang.

Tembokrejo, 2026


Biodata Penulis:

Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019), "Dalil Kiai Sutara " (PSBB, 2020).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak