
oleh Heru Widayanto
Bau mesiu tidak bisa mengalahkan aroma anyir darah yang menguap dari pualam Puri Cakranegara. Aku berdiri di tengah simfoni kematian yang baru saja melambat volumenya. Telingaku berdenging hebat. Bukan oleh gelegar meriam yang baru saja diam, tetapi oleh kesunyian ganjil yang merayap di antara reruntuhan. Di sekelilingku, bau mesiu menyengat, berebut ruang dengan aroma anyir yang menguap dari genangan merah di atas pualam.
Aku melihat kaki-kaki kokoh serdadu KNIL. Sepatu lars mereka berlumur lumpur dan darah, menginjak serakan kembang sesajen yang masih lembap. Puri ini jantung peradaban yang sedang sekarat. Letusan bedil sesekali menyalak di kejauhan, memburu bayangan yang berlarian di balik tembok retak. Setiap dentuman terasa seperti palu yang memaku rasa bersalah di dadaku.
"Tuan Brandes! Menyingkir! Atap itu mau rubuh!" teriak Letnan Van der Meer. Wajahnya kotor oleh debu, tapi matanya menyala-nyala oleh syahwat kemenangan. Ia tertawa, lalu meludah ke lantai puri yang biasanya hanya disentuh oleh doa.
Aku tidak bergeming. Pandanganku tertambat pada seorang pemuda dengan wastra koyak. Tangannya masih menggenggam hulu keris, namun matanya sudah menatap langit-langit yang runtuh dengan tatapan kosong. Di samping jemarinya yang mulai kaku, sebuah kotak kayu naga terguling.
“Berapa banyak lagi yang harus kaubakar, Tuan Meer?!” sanggahku dengan pertanyaaan balik.
“Berapa banyak apa, Tuan? Kalau maksud Anda seberapa banyak pemberontak yang harus kami habisi, sudah hampir seribu nyawa di lapangan sana. Raja mereka, Anak Agung Ketut, juga sudah mampus di depan istana,” jawabnya sambil tertawa kecil, lalu meludah ke lantai puri yang suci.
Aku melangkah masuk, melewati lorong-lorong yang biasanya harum dupa, kini menyesakkan oleh debu reruntuhan. Sampai di gedung pustaka raja, aku melihat rak-rak kayu jati yang dikerjakan dengan ukiran indah telah roboh, memuntahkan isinya ke lantai. Ratusan lembar rontal berserakan seperti dedaunan kering yang berguguran di musim kemarau yang paling bengis.
Beberapa serdadu sibuk membongkar peti besar di sudut lain. Mereka berteriak girang saat menemukan koin emas dan perhiasan bermata berlian. “Ini dia! Emas murni!” teriak salah satu dari mereka sambil mengangkat mahkota bertahtakan permata. Mereka memperlakukan benda-benda itu seperti jarahan biasa, tanpa tahu bahwa setiap goresan pada emas itu adalah bagian dari napas sebuah bangsa.
Aku berlutut di depan gundukan rontal yang mulai dijilat api. Tanganku yang gemetar meraba, memilah di antara jelaga. Hingga kemudian, jemariku menyentuh sebuah ikatan rontal yang terasa berbeda. Kayu penutupnya—cakepan—terbuat dari cendana yang masih menyisakan sedikit aroma harum di tengah bau sangit. Pelan-pelan aku membuka talinya.
Di sana, di bawah cahaya jingga dari lidah api yang merayap ke atap puri pustaka, aksara Jawa Kuno itu tampak seperti sedang menari. Nāgarakṛtâgama.
Duniaku berhenti berputar. Huruf-huruf itu tidak tertulis di atas daun lontar, mereka seperti sedang berbisik, meratap, hingga rinithannya merayap masuk ke pori-pori kulitku. Aku mulai membaca bait demi bait dengan napas tertahan. Prapanca. Nama pujangga itu bergema di kepalaku. Ia tidak menyusun laporan perjalanan biasa; ia merajut ode tentang kebesaran sebuah imperium bernama Majapahit.
“Tuan Brandes, cepat! Api sudah menguasai sayap timur!” teriak Van der Meer lagi, lebih mendesak.
Aku abai. Mataku terpaku pada bait yang menggambarkan kemakmuran, tentang rakyat yang hidup dalam kedamaian di bawah hukum adil, tentang persatuan pulau-pulau yang luasnya melampaui imajinasi siapa pun di Leiden. Seketika, dinding prasangka yang kubangun sebagai seorang orientalis Belanda runtuh berkeping-keping.
Selama ini, aku diajarkan bahwa orang-orang Nusantara adalah "kaum inlander" yang belum dewasa, yang butuh bimbingan Eropa agar mengenal peradaban. Namun, rontal di tanganku ini tamparan yang keras. Lima ratus tahun sebelum kami datang dengan kapal perang dan meriam, mereka sudah memiliki visi tentang persatuan besar. Mereka memiliki sistem pemerintahan yang teratur, struktur sosial yang mapan, dan penghormatan tinggi terhadap ilmu pengetahuan.
“Kita tidak sedang memberadabkan mereka,” gumamku parau. “Kita sedang menghancurkan raksasa yang sedang tidur.”
“Apa Anda bilang, Tuan?” Kopral di sebelahku bertanya dengan dahi berkerut, tangannya penuh barang perak.
“Keluar! Bawa semua naskah ini keluar!” perintahku lantang.
“Tapi Tuan, Jenderal Vetter memerintahkan prioritas pada logam mulia. Naskah ini berat dan tidak laku dijual!”
“Ini lebih berharga dari seluruh emas yang kalian curi hari ini!” teriakku, kehilangan kesabaran. Aku meraup ikat-ikat rontal itu, mendekapnya di balik seragam hingga debu hitam mengotori kain putih yang kukenakan. Aku merasakan permukaan rontal yang kasar bergesekan dengan dadaku, seolah ia ingin menyatu dengan detak jantungku.
Saat aku berlari keluar, sebuah balok kayu membara jatuh tepat di tempatku berlutut tadi. Percikan apinya mengenai lenganku, tapi aku tak merasakan sakit. Yang kurasakan ketakutan luar biasa jika naskah ini hangus. Aku berlari menembus asap, melewati serdadu yang masih sibuk tertawa di atas penderitaan orang lain.
Malam itu, di tenda darurat di Ampenan, aku duduk sendirian dengan lampu minyak yang berkedip ditiup angin laut. Di depanku, Nāgarakṛtâgama terbentang. Aku mulai menyalinnya dengan tangan gemetar karena sisa adrenalin dan kelelahan. Setiap kata yang kupindahkan ke buku catatan terasa seperti prosesi pertobatan.
Aku melihat bayanganku di dinding tenda—seorang pria Belanda dengan seragam resmi, namun di dalam hatinya terjadi revolusi. Pengetahuan dari buku kuno ini mengubah arah hidupku sepenuhnya. Aku menyadari bahwa misi penyelamatan ini satu-satunya tindakan yang benar-benar bermartabat di tengah kegilaan perang Lombok.
“Anda tampak seperti orang gila, Brandes,” ujar seorang kolega peneliti yang masuk ke tenda. “Semua orang merayakan kemenangan, Anda malah berkutat dengan daun kering.”
Aku menatapnya dengan tatapan kosong namun tajam. “Kemenangan ini sementara, kawan. Tapi apa yang ada di daun kering ini bertahan lebih lama dari kekuasaan Belanda di tanah ini.”
“Maksud Anda?”
“Kita mengira kita adalah tuan, padahal kita tamu yang datang terlambat dan merusak pesta. Naskah ini... naskah ini akan menjadi buku yang mengubah cara pandang dunia terhadap mereka. Suatu hari nanti, ia menjadi senjata bagi mereka untuk berdiri tegak kembali.”
***
Tahun-tahun kemudian, di perpustakaan Leiden yang dingin, bau asap dari Puri Cakranegara itu masih sering singgah di hidungku. Aku menghabiskan sisa hidup dengan berulang kali membaca dan berusaha memahami naskah Prapanca, hingga menemukan sebuah keyakinan bahwa buku yang terbuat dari duan rontal itu adalah cermin yang menunjukkan betapa kerdilnya ambisi kekuasaan di hadapan keabadian ilmu.
Aku menemukan nama Majapahit kembali bergaung. Bahkan, lebih dari itu, ia memberikan makna baru dalam perjalanan hidupku. Tulisan Prapanca menjadi cermin, menunjukkan betapa kerdilnya ambisi kekuasaan di hadapan keabadian ilmu. Aku tahu, suatu hari nanti, rontal-rontal ini harus pulang. Ia harus kembali ke pangkuan anak-anak Hindia Belanda sebagai pemiliknya, agar mereka bisa membaca masa lalu mereka sendiri dengan kepala tegak.
Di usia yang telah senja, aku sering bermimpi tentang pohon-pohon besar di Jawa dan Lombok. Aku merasa seperti sebatang pohon yang akarnya merambat jauh ke masa lalu, mencari kebenaran di antara puing sejarah. Aku perantara, seorang ekspatriat Belanda yang kebetulan berada di tempat yang salah, namun menemukan hal yang benar.
Kepada Tuan Jenderal Vetter aku pernah mengakatan bahwa peradaban sebuah bangsa tidak bisa dibakar api, tidak bisa dirampas meriam. Ia tetap hidup, tersimpan dalam bait-bait suci, menunggu seseorang menemukannya kembali dan membawanya pulang. Bagiku, naskah Nāgarakṛtâgama adalah buku yang menyelamatkan kemanusiaanku di tengah amuk peperangan yang paling kelam.
Aku menutup mata dengan membayangkan rontal ini pulang ke Hindia Belanda. Kaum bumiputera akan berjalan dengan kepala tegak, karena mereka akan tahu bahwa sesungguhnya merekalah pewaris kejayaan yang pernah dituliskan di atas rontal yang kuselamatkan dari Lombok. Aku juga membayangkan, sekelompok anak-anak muda sedang melantunkan Ode untuk Prapanca di bekas reruntuhan Puri Cakranegara nan jauh di mata, Hindia Belanda.
Kutulis dengan tinta terakhir, suatu petang menjelang sepotong senja untuk usiaku benar-benar terbenam. (*)
Bionarasi Penulis
Heru Sang Amurwabumi, terpilih sebagai emerging writer di festival sastra internasional: Ubud Writers anda Readers Festival tahun 2019, peraih Apresiasi dari Badan Bahasa Kemendikdasmen tahun 2025. Buku kumpulan cerpennya, Maha Pralaya Bubat (2025).
Catatan:
Kalimat penutup cerpen ini terinspirasi dari judul prosa pendek karya Seno Gumira Ajidharma (Sepotong Senja untuk Pacarku).