Satu Malam di Teras Juragan


oleh Amira Salsabil Husna


Ku rebahkan punggung di atas keramik yang dingin.
Lengan kiri kujadikan bantal,
sarung yang masih menyimpan bau amismu
kutarik sampai dada
untuk mengurangi dingin yang menekan tubuhku.

Tik... tik... tik...

Hujan terus mengguyur kampung.
Rintiknya jatuh perlahan,
membuat tanah mengeluarkan bau basahnya
dan mengganggu nyamanku untuk beristirahat.

Mataku memang terpejam,
namun pikiranku tak henti beradu
dengan dengkuran pendaga lain
yang saling bersahutan di teras juragan.

Aku teringat palka
yang bahkan tak terisi setengah.

Ngiiiing

Dengung nyamuk mengitari telinga.
Seekor hinggap di pipiku
yang lengket oleh keringat dan basah hujan.
Aku malas menepisnya.
Barangkali hanya nyamuk malam ini
yang masih menganggap tubuhku punya isi.

Pagi tadi,
saat ikan ditimbang di depan gudang,
angka-angka itu bahkan tak cukup
untuk membeli tikar tipis
agar aku tak lagi tidur ngemper di lantai dingin.

Aku pulang membawa harapan kosong,
sebab kau tak lagi memberi
apa yang dulu mudah kautaburkan.

Tak ada gunanya kulempar tubuhku ke dalam ragamu,
membiarkan tangan lecet menarik jaring
demi mencari berkah
yang kini entah tenggelam di mana.

Punggungku nyeri dihantam ombak.
Hujan turun deras,
dan aku tetap di buritan kapal
seolah tulang ini terbuat dari kayu.

Air laut dan keringat bercampur rata di wajahku,
membuatku bingung
mana peluhku
dan mana peluhmu.

Rokok di sela jari tinggal setengah ruas.
Baranya kecil menyala di ujung.
Pahit dan hambar terasa di lidah,
tapi tak lebih hambar
daripada nasi bungkus
yang sore tadi kubeli
dengan sisa receh terakhir.

Kau sembunyikan di mana kawanan lemuru itu?

Tak sadarkah kau
bahwa aku sampai seperti ini
hanya demi belas kasihmu
yang sekarang tak lagi memiliki harga?

Terdengar batuk keras di ujung teras,
memecah ingatan pagi yang kembali terputar.

Tik... tik... tik...

Rintik hujan kembali terdengar nyaring.

Dari dalam rumah,
terdengar suara gelas kopi diletakkan di meja.
Barangkali juragan belum tidur.

Besok subuh aku akan mengetuk pintunya lagi
bukan untuk menerima upah,
melainkan meminta solor
agar bisa membeli nasi yang lebih layak
atau sekadar ongkos pulang.

Agar bisa tidur lebih pantas,
meski itu mungkin hanya angan belaka.

Aku membalik tubuh pelan.
Dingin keramik menembus baju tipisku
yang kini dipenuhi bau solar.
Angin malam menyusup di sela kain,
menempel di kulitku yang mulai basah oleh hujan.

Esok aku akan kembali naik ke kapal,
mengulang hal yang sama,
mengulur nyawa
ke tengah hitam ragamu.

Atau mungkin esok
kau sedang berbaik hati

mengantar kawanan lemuru itu padaku,
membuatku pulang dengan senyum,
merayakan kemurahanmu
dengan rasa syukur.

Agar aku tak terus bertanya:

berapa banyak keringat lagi
yang harus kautagih dari tubuhku
hanya agar tidur tak lagi ngemper di lantai teras,
atau satu piring makan
tak terasa lebih mahal daripada badaimu?

Ngiiiing

Nyamuk kembali hinggap di pipi.


Bionarasi penulis



Amira Salsabil Husna atau yang memiliki nama pena R. Ayu merupakan pelajar di SMA Negeri 1 Muncar memiliki minat besar dalam dunia kepenulisan. Dalam perjalanan berkaryanya, Amira aktif mengikuti ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) pada bidang cerpen tahun 2025 dan 2026. Prestasinya dibuktikan dengan meraih Juara Harapan 1 Cipta Cerpen FLS3N SMA/SMK/MA Sederajat Tingkat Kabupaten Banyuwangi Tahun 2025. Selain itu, salah satu puisinya yang berjudul “Nahkoda Dalam Kata” terpilih untuk dimuat dalam buku Antologi Puisi Pelajar Banyuwangi – Jawa Pos Radar Banyuwangi, Bel Masa Depan dan Penggaris Mimpi (Teresia, Jakarta Selatan, 2025).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak