Karya Gagah Pranaja Sirat
DAN
saat itu terjadi, apa yang kau pikirkan
perihal kata-kata ini?
***
[1]
Sekadar: dan saat itu terjadi, apa yang kau pikirkan perihal kata sekadar?
Aku ingat sekali, dahulu ketika tentara-tentara masih berdatangan ke desa kita
dan derap kakinya membikin telingaku takut, kau elus kepalaku seraya berkata
dengan volume selembut kelopak kembang sepatu, “tidak perlu khawatir. Itu sekadar
bunyi sepatu para tentara. Bunyi itu tidak akan membahayakanmu.”
Aku tahu bunyi tidak akan membahayakanku, sama halnya ketika daun telingaku menangkap gelombang ledakan dari arah utara, jeritan orang-orang, reruntuhan bangunan-bangunan, termasuk tangis pedih yang dikeluarkan oleh ibuku dari matanya tatkala tepat di depan pucuk hidungnya, ayahku tergeletak layaknya bangkai ayam, bersimbah darah. Bunyi-bunyian itu memang tidak akan membahayakanku. Tapi, bunyi-bunyian itu adalah sebuah wujud dari tanda—bahwa bahaya sedang mengintai dari balik belakang tengkukku.
“Kau mau ke mana? Situasi sudah
begitu genting. Kau tidak bisa lagi berusaha melawan orang-orang itu.”
“Aku harus menghentikan mereka.”
“Tapi, apakah kau tidak lihat apa
yang terjadi pada orang-orang yang berusaha menghentikan mereka?”
“Meski taruhannya nyawa,” kau
mengambil tanganku, menggenggamnya serupa gagang pintu, “harus selalu ada
orang-orang yang tumbuh, bangkit, dan muncul untuk menghentikan mereka. Lagi
pula, yang mereka bunuh sekadar jasadnya saja. Mereka mungkin bisa
mematikan organ-organ fisikku, tetapi tidak dengan semangatku.”
Petang itu, kau pergi. Rembulan terbit
dan kau tidak muncul-muncul lagi. Aku berdoa pada leluhur kalau-kalau kau bisa
selamat tanpa luka, tanpa mati. Kelelawar-kelelawar membelah kelam malam. Angin
dingin menyibak tirai jendela. Aku mendengar bunyi ketukan pintu: dan bunyi
adalah wujud dari tanda bahwa bahaya sedang mengintai dari balik belakang
tengkukku. Kau berdiri. Bersimbah darah. Sama seperti ayahku kala itu, tapi
bedanya kakimu yang kekar masih bisa setegak pohon jati.
“Tidak apa-apa,” ujarmu sehalus kain
sutra, “kau tidak perlu cemas. Tubuhku sekadar luka ringan.”
Dan saat itu terjadi, apa yang kau
pikirkan perihal kata sekadar?
***
[2]
Memberitahu: dan saat itu terjadi, apa yang kau pikirkan perihal kata memberitahu?
Usai kau pulang dengan bentuk yang lebih parah dari seekor anjing yang terluka
ketika dipanah oleh pemburu, aku membanjur segala luka itu disertai aliran
kekhawatiranku dan rasa penasaranku yang memuncak, “apa yang terjadi padamu?”
Namun, entah kenapa, dan untuk pertama kalinya—dari mulutmu yang bengkak itu—meluncur
seutas kalimat bahwa kau lebih memilih untuk tidak memberitahu.
“Urusan laki-laki,” katanya, “kau
tidak perlu cemas. Yang penting, aku sudah pulang sekarang. Desa kita sebentar
lagi akan aman dari tentara-tentara itu, bisa kupastikan.” Lantas kau menghela
napas, mengalihkan pandanganmu dari diriku menuju jendela yang tengah terbuka,
“bisa kupastikan…”
Lewat pagi yang masih santai
berduduk-duduk di atas kepalaku, aku dengar dari Bi Yuk, kalau kemarin sosokmu terlihat
menembus perbatasan. Bi Yuk mengekorimu saat menyadari ada dirimu yang tengah
mengendap-endap seperti anak rusa di depan hutan. Kau tampak tenang tatkala
hendak memasuki posko itu, tidak seperti orang-orang desa kita—yang mesti
dipukul, dicambuk, dan baru digelandang terlebih dahulu, sekadar untuk
melewati perbatasan.
“Apa yang terjadi?”
Bi Yuk sekadar menggelengkan
kepala.
“Apa yang terjadi?”
Dan dirimu, sama seperti Bi Yuk: sekadar
menggelengkan kepala. “Urusan laki-laki,” sahutmu dengan nada datar, dan
masih tetap teguh pada prinsipmu semula untuk tidak pernah memberitahu.
***
[3]
Sekuntum: dan saat itu terjadi, apa yang kau pikirkan perihal kata sekuntum?
Kau tidak biasanya begini. Dulu, ketika kita bertemu di utara, dan di samping
kita ada jasad ayahku yang tidak lagi bergerak, kau memberitahu-ku bahwa
akan ada banyak tentara-tentara yang berdatangan, membumihanguskan desa ini.
Kau ajak aku dan ibuku ke tempat perlindungan kalian, orang-orang yang berusaha
mati-matian untuk menghentikan tentara-tentara itu. Kau selalu memberitahu-ku
tentang apa saja. Katamu, tentara itu datang layaknya pencuri susu yang masuk
ke peternakan orang, lalu memerah sapi-sapinya sampai habis untuk diminumnya
dengan tamak—dan sapi itu adalah hutan kita.
Kau juga memberitahu-ku kalau
ternyata sejak pertemuan pertama kita pada hari itu, di antara bumbungan asap
yang panas, ledakan, jeritan orang-orang, dan api yang menyala-nyala—menelan
rumah-rumah warga—dalam hidungmu, seperti tumbuh sesuatu. Aku bingung. Apakah
jika bulu hidung mau tumbuh akan ada rasanya, dan bisa diperkirakan? Kau
tertawa. Ternyata itu bukan bulu hidung, akan tetapi sebuah biji cinta yang
sedang tumbuh subur melalui aroma tubuhku—yang menurutmu—serupa
partikel-partikel pada kelopak kembang sepatu.
“Saat kecil, ayahku selalu
melarangku untuk memegang bunga-bunga. Karena katanya, bunga-bunga itu hanya
untuk perempuan. Namun, siapa sangka?” Kau merengkuh kedua pundakku, memelukku dengan
tangan yang digerakkan secara hati-hati, lembut-lembut. “Akhirnya, aku bisa
menggenggam sekuntum bunga yang tak pernah aku dapatkan sejak dulu.”
Kau menganggapku sebagai sekuntum
kembang sepatu. Yang katamu, aku tumbuh di dalam hidungmu. Ketika kau sedang
berjuang di ambang perbatasan sana, dengan darah seperti peluh bagi pori-pori
kulitmu, asap bagai pakaian bagi tiap-tiap jengkal tubuhmu: hidungmu, adalah
satu-satunya anggota tubuh yang masih meranumkan seberkas harum. Kau rindu
padaku setiap satu tembakan berhasil menembus dada tentara-tentara itu. Maka
dengan demikian, kau pulang seraya terus menyuburiku serupa biji sebuah bunga.
Menyiramku dengan kasih. Menanamku di tanah hati. Menyinariku melalui binar
harap.
Namun, aku rasa, setelah kau pulang
dari posko itu, kau tidak lagi menganggapku sekuntum kembang sepatu yang
tumbuh di dalam hidungmu. Kini, aku kurang lebih macam biji yang kekurangan
air. Gersang. Panas. Terik mulai merambat di setiap penjuru pembuluh darahku.
[4]
Kembang Sepatu: dan saat itu terjadi, apa yang kau pikirkan perihal kata
kembang sepatu? Aku tahu tersebab cinta kita yang begitu mekar layaknya
bunga-bunga di dalam hutan desa dapat membuatmu mulai mengerti soal
tanaman-tanaman. Mulanya, kau melindungi desa kita untuk sekadar menjaga
orang-orang dari rasa sakit. Namun, akhirnya kau mengerti, bahwa yang kau
lindungi bukan hanya manusia, tapi setiap akar yang tertancap pada desa kita.
Kendati, kau adalah pendatang di desa ini, ari-arimu tidak pernah menyentuh air
sungai ini, tapi kau sungguh memiliki tujuan baik, hati mulia. Kau mulai
mengerti apa-apa saja yang tumbuh di dalam hutan kita, sebab aku yang
mengajarimu begitu—ketika kau masih menganggapku sebagai sekuntum bunga.
“Aku akan menjaga desa kita serta
tumbuhan-tumbuhan yang mengular di segala sudutnya, sebagaimana aku akan
menjagamu serupa sekuntum bunga yang telah tumbuh, merambah dari dalam
lubang hidung, menuju segala inci jaringan-jaringan organ tubuhku.”
Kau mengajarkanku kata sekuntum
dan aku mengajarkanmu kata-kata yang mekar di tanah hutan kita: begonia,
anggrek hutan, kantung semar, lantana, tapak dara, bunga kancing, cempaka,
randu hutan—tapi tidak ada satu pun yang kau ingat selain kembang sepatu.
Itu pun, kau tahu dari ayahmu ketika kecil dulu saat kau tak sengaja memegang
bunga tersebut.
“Laki-laki tidak boleh bermain
dengan bunga!” Ayahmu menarik lenganmu, lalu menginjak-injak kelopak kembang
sepatu itu. Kau terdiam. Tercenung. Termenung. “Seharusnya kau bermain dengan
pucuk pistol, bukan pucuk dedaunan. Sini! Ikut ayah. Kita akan pergi ke utara.”
Mungkin, itu sebabnya kau tak lagi
menganggapku sekuntum kembang sepatu. Hidungmu tak lagi mencium bau
kesedihanku, aroma yang selalu menguar dari kelopak mataku yang sembab. Ada apa
dengan posko itu? Apa yang kau lakukan di sana?
Kau membatu. Membeku. Dan lagi-lagi,
memilih untuk tidak memberitahu.
***
[5]
Ranum: aku tidak pernah menjadi kembang sepatu yang akan ranum
di dalam lubang hidungmu, atau di dalam relung hatimu. Hari ini, kau pergi.
Meninggalkanku. Memberiku sunyi yang begitu pedih. Memberiku bantingan pintu
yang begitu keras. Ada apa? Apa salahku?
Apakah ini karena kau baru sadar,
bahwa yang kau genggam bukanlah sekuntum kembang sepatu yang mewah,
melainkan di telapak tanganmu—selama ini—kau hanya menggenggam sejumput
rerumputan liar: karena itu yang aku lihat dari sebalik cermin ketika aku
berkaca.
Aku memang tidak pantas untuk orang
dengan nilai pahlawan yang begitu besar dirimu. Aku hanyalah seorang perempuan—yang
kata mereka—senang bermain dengan bunga-bunga. Berkecimpung dengan kupu-kupu
yang terbang. Tapi, apa masalahnya? Apakah sebuah keindahan atau kecantikan
sama dengan kelemahan?
Mengapa kau terus menghindari biji
cinta kita untuk ranum dengan sempurna di dalam lubang hidungmu?
Kau tidak akan lagi mencium aroma
tubuhku yang serupa lekuk-lekuk batang kembang sepatu. Mulai detik ini
juga, aku akan membikin tubuhku jengat seperti abu. Pahit seperti rumput.
Karena itu yang aku lihat dari sebalik cermin ketika aku berkaca. Bi Yuk
mengajakku untuk melawan tentara-tentara itu—sesaat mereka berhasil masuk,
menerabas perbatasan dengan jumlah yang begitu banyak. Laki-laki di desa ini
telah dicabut dari tanah desa oleh tangan-tangan keji mereka. Maka, biarkanlah
perempuan-perempuan sepertiku berusaha melawan mereka menggunakan duri-duri tajam
dari sebatang bunga.
Di ambang perbatasan, aku berteriak.
Suara kami tak lagi serupa dengung lebah, tapi macam terompet gajah. Aku
mengangkat tombak pemberian ayahku tinggi-tinggi, dan saat itu aku melihat
wujudmu. Memakai seragam yang sama seperti yang dikenakan oleh tubuh
tentara-tentara itu.
Aku sudah mengiranya, jauh sebelum
kau datang. Bahwa akan ada salah satu dari tentara-tentara itu yang menyamar
sebagai orang desa. Tapi, aku hanya mengira-ngira. Mengira-ngira! Dan, tidak
kusangka bahwa orang itu adalah dirimu. Saat itu terjadi, apa yang kau pikirkan
perihal janji-janji manisku padaku dulu?
***
[6] di dalam Hidungmu: aku melihat biji cinta kita yang menggelegak. Ia tumbuh begitu cepat seperti minyak diberi api. Kau termenung. Kita saling bertatapan di antara orang-orang yang saling melawan. Dan, dari dalam hidungmu, aku melihat biji cinta kita berubah menjadi akar, batang, pun duri-duri yang membikin kau kesakitan. Jatuh. Terkapar. Senjata apimu terlempar. Kau meraung-raung. Darah mengalir seperti air terjun—deras—dari kedua lubang hidungmu. Namun, darah itu tidak beraroma harum layaknya kembang sepatu, melainkan berbau busuk macam bunga bangkai—bangkai seorang penipu.**
Gagah Pranaja Sirat, lahir dan menetap di bogor 12 Desember 2007. Sekarang, tengah menempuh pendidikan SMA jenjang ketiga di sekolah Boash Ashokal Hajar. Di 1 tahun awal menulisnya, dia sudah mendapat lebih dari 50 juara dan prestasi dalam lomba kepenulisan fiksi serta non-fiksi. Baru-baru ini dia telah memenangkan dua cabang lomba sekaligus dengan sama-sama juara pertama pada cabang lomba cerpen dan cabang lomba puisi dalam rangka Festival Kenduri Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, serta cerpennya ‘Mondar-Mandir’ memenangkan juara kedua pada Bulan Bahasa Universitas Gadjah Mada. Profil prestasi tentang dirinya sudah diterbitkan dalam Majalah Inspiratif oleh Duta Inovatif Indonesia dan Youth Idea Community. Cerpen terbarunya ‘Sutrisni Menghafal Tubuhnya Sendiri’ terbit di Harian Kompas. Lihat ia lebih lanjut melalui instagramnya: @gahpraja.
