oleh Selendang Sulaiman
iman korslet.
musim
hujan tiba di jakarta,
basahi
tubuh para pekerja yang dingin gairah.
bumi
nguap ke batas lapis-lapis langit,
bikin
iman Mikail mendadak korslet.
di
kedalaman benda-benda dan zat warna
nama-nama
dicipta—berebut ruang algoritma.
ribuan
tahun bumi sepi berputar di porosnya,
tanpa
peduli akal dan perasaan manusia.
lihat,
Mikail masih diam di tempat,
menyaksikan
kegusaran isi linimasa gawai,
dan
Tuhan tersenyum menebar sunyi-Nya.
pecahlah
hujan tanpa cerita, tanpa pekabar,
lewat
jari-jari mekanis yang perlahan leleh
disulut
jilatan api getir yang tak padam-padam.
obat penenang.
adakah
obat penenang selain kematian?
ia
bertanya pada algoritma kecemasan
di
layar gawai, bayangan di luar pintu,
dan
wujud dalam cermin yang bukan dirinya.
daya
hidupnya perlahan putus arus,
gagal
membaca kenyataan luar-dalam.
ia
pun memilih beku di atas kasur,
terisolasi
dalam ceracau.
ia
tak berani menatap mata orang-orang,
lingkungan
sekitar menjelma teror
bagi
isi kepalanya yang penuh sampah konten.
kini
ia tak lagi sanggup merakit keluh
sebab
seluruh dirinya disekap kehampaan:
labirin
yang ia bangun sendiri setiap waktu.
Bionarasi penulis
Selendang
Sulaiman,
Penyair mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya tersiar
di berbagai media massa cetak dan elektronik seperti Jawa Pos, kompas.id, Kedaulatan
Rakyat, Pikiran Rakyat, dll, serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi
Puisi Tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan Penganggur
Berwajah Touchscreen (JBS, 2025). Kitab Soneta keduanya bakal terbit akhir
tahun 2026. Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube
@selendangsulaimanofficial
.jpeg)