Oleh Ahmad Rifa’i
Arus modernisasi menjelma gelombang besar yang
perlahan meluruhkan jejak-jejak warisan leluhur. Banyak tradisi lama masyarakat
mulai tenggelam di tengah riuh kehidupan modern. Kini, generasi muda lebih
dekat dengan gemerlap layar dan derasnya arus media digital, sementara
petuah-petuah bijak yang dahulu dituturkan hangat oleh para orang tua perlahan
memudar. Meski demikian, di tengah arus zaman yang terus bergerak cepat, masih
ada daerah yang teguh menjaga denyut tradisinya agar tidak lenyap ditelan
modernitas.
Pulau Madura contohnya. Pulau yang biasa kita
sebut tanah garam ini memiliki sebuah warisan budaya yang bukan hanya sekadar
indah dalam untaian bahasa, tetapi juga kaya akan makna kehidupan, yakni
tradisi paparèghân. Bouvier (2002) menjelaskan bahwa paparèghân
pada dasarnya memiliki kesamaan bentuk dengan pantun, yakni tersusun atas bait
yang terdiri dari empat larik, dengan tiap larik memuat sekitar 4–6 kata atau
8–12 suku kata serta menggunakan pola rima seperti a-b-a-b, a-a-b-b, atau
a-a-a-a. Namun, dalam praktiknya, paparèghân Madura tidak selalu hadir
dalam bentuk empat larik. Beberapa di antaranya juga ditemukan dalam bentuk dua
larik yang lebih singkat dan padat. Dalam KBBI (2016), bentuk pantun dua larik
tersebut dikenal sebagai pantun kilat. Variasi dalam bentuk tersebut semakin
memperlihatkan bahwa paparèghân Madura memiliki keterkaitan yang erat
dengan tradisi pantun Nusantara, baik dari segi struktur, rima, maupun cara
penyampaiannya.
Lebih dari sekadar kesamaan bentuk, paparèghân
Madura juga menyimpan kedalaman makna yang merepresentasikan cara berpikir,
watak, serta falsafah hidup masyarakat Madura yang diwariskan seiring
perjalanan zaman. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Hooykaas (1953) yang
menjelaskan bahwa pantun yang berkualitas tidak hanya menampilkan kesamaan
bunyi semata, tetapi juga mampu mengahadirkan keterhubungan makna antara
sampiran dan isi. Dengan demikian, paparèghân tidak hanya menjadi sebuah
karya dengan keindahan bahasa, tetapi juga menyimpan pesan moral dan nilai
kehidupan di balik setiap baitnya.
Sebagai bagian dari tradisi lisan yang hidup
di tengah masyarakat, paparèghân diwariskan secara turun-temurun dan digunakan
dalam berbagai situasi kehidupan, baik formal maupun nonformal. Masyarakat
Madura memanfaatkannya sebagai sarana menyampaikan nasihat, memberikan
sindiran, media hiburan, hingga penyampai pesan keagamaan. Keunikan paparèghân
terletak pada cara penyampaiannya yang sederhana dan tidak terkesan menggurui,
tetapi tetap memiliki makna yang mendalam. Hal tersebut memperkuat pandangan
Danandjaja (1984) bahwa bentuk-bentuk puisi rakyat dalam folklor lisan
merupakan warisan budaya yang memiliki peran penting sebagai penguat norma dan
institusi kebudayaan.
Sebagai bagian dari tradisi lisan, paparèghân
lahir dan berkembang dari kehidupan masyarakat Madura yang lekat dengan nilai
kekeluargaan, penghormatan, serta religiusitas. Karena tumbuh dari realitas
sosial masyarakat yang demikian, setiap bait paparèghân terasa dekat
dengan kehidupan sehari-hari orang Madura. Dalam paparèghân kerap
tergambar berbagai nilai kehidupan masyarakat Madura, mulai dari hangatnya
ikatan keluarga, keteguhan dalam memegang prinsip, kegigihan seorang pria
mencari nafkah, hingga kedekatan manusia dengan Tuhan. Tidak hanya itu, paparèghân
juga memuat ungkapan-ungkapan yang mencerminkan kepedulian dan perlindungan
terhadap kaum yang dianggap lebih lemah, seperti perempuan, sehingga tradisi
lisan ini menjadi cermin nilai sosial dan moral yang hidup di tengah masyarakat
Madura. Dengan demikian, paparèghân bukan hanya menjadi karya sastra
lisan yang indah didengar, melainkan juga media pewarisan nilai, nasihat, dan
cara pandang hidup masyarakat Madura kepada generasi berikutnya.
Dalam kehidupan masyarakat Madura, dikenal
sebuah falsafah hidup yang begitu lekat dan diwariskan turun-temurun, yakni bhuppa’ bhâbhu’ ghuru rato. Falsafah
ini menggambarkan urutan sosok yang harus dihormati dalam kehidupan, dimulai
dari orang tua, guru, hingga pemimpin. Hal tersebut sejalan dengan pendapat
Rifa’i (2021) yang menjelaskan bahwa ungkapan bhuppa’ bhâbhu’ ghuru rato bukan
sekadar semboyan populer, namun telah menjadi pegangan hidup yang melekat dalam
jiwa dan kehidupan masyarakat Madura.
Nilai penghormatan itu kemudian banyak tercermin dalam berbagai paparèghân yang hidup di tengah masyarakat Madura. Melalui bait-bait yang sederhana namun penuh makna, masyarakat Madura menanamkan ajaran tentang pentingnya menghormati, menaati, serta menjaga martabat orang tua sebagai landasan utama dalam kehidupan. Salah satu paparèghân yang menggambarkan nilai tersebut ialah sebagai berikut:
|
Perrèng towa kening ghâbey tale Nambhârek semangken raje ojhânna Orèng towa jhâ’ la-salaè Amarghâ dhusa tor rajâ tolana |
Terjemahan Bambu tua bisa dijadikan
tali Musim penghujan saat ini lebat
hujannya Orang tua jangan di lawan Karena berdosa dan
berakibat buruk |
Paparèghân tersebut
menjadi pengingat bahwa melawan atau menyakiti hati orang tua merupakan
perbuatan yang dianggap tercela, bahkan diyakini dapat mendatangkan akibat
buruk dalam kehidupan. Bagi masyarakat Madura, orang tua menempati posisi yang
sangat mulia karena merekalah sosok yang membesarkan, merawat, dan membimbing seorang
anak sejak kecil hingga dewasa. Oleh sebab itu, sikap hormat dan patuh kepada
orang tua tidak sekadar menjadi ajaran moral, melainkan telah tumbuh sebagai
bagian penting dalam pembentukan karakter dan cara pandang hidup masyarakat
Madura.
Selain orang tua, guru juga menempati posisi
yang sangat dihormati dalam kehidupan masyarakat Madura. Sosok guru tidak hanya
dimaknai sebagai pengajar di ruang-ruang pendidikan formal, tetapi juga sebagai
pembimbing moral dan spiritual yang memberi arah dalam menjalani kehidupan.
Dalam masyarakat Madura, sosok guru terutama kiai sering menjadi tempat meminta
nasihat sebelum seseorang mengambil keputusan penting. Nilai tersebut tercermin
dalam berbagai paparèghân yang mengingatkan bahwa orang yang mengabaikan
petuah guru akan mudah kehilangan arah dalam hidupnya. Dari sini terlihat bahwa
pendidikan dalam budaya Madura tidak semata-mata dipahami sebagai proses
memperoleh ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai jalan untuk membentuk
karakter, etika, dan kebijaksanaan hidup.
Sementara itu, rato atau pemimpin
dipandang sebagai sosok yang layak dihormati karena kemampuan, kebijaksanaan,
dan tanggung jawab yang dimilikinya dalam memimpin masyarakat. Namun,
menariknya, dalam pandangan hidup masyarakat Madura, posisi pemimpin tidak
ditempatkan sebagai yang paling utama. Sebelum menaruh hormat kepada pemimpin,
seseorang terlebih dahulu diajarkan untuk menghormati orang tua dan guru.
Pandangan ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura tidak memaknai kekuasaan
sebagai puncak segalanya, melainkan sebagai amanah sosial yang harus dijalankan
dengan penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan.
Lebih dari sekadar rangkaian kata bernilai
estetis, paparèghân juga berfungsi sebagai media pendidikan sosial dan
keagamaan. Melalui ungkapan-ungkapan sederhana yang mudah diingat, masyarakat
diajak untuk menjalankan ajaran agama dengan sungguh-sungguh serta menjaga
perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Adapun nilai-nilai religius tersebut
tampak dalam salah satu paparèghân berikut:
|
Main bejeng jhâ’ sambi buruh Buku samporna è bebenah Mon abhâjeng jhâ’ rukaburuh Makle samporna syarat rukunnah |
Terjemahan bermain wayang jangan sambil berlari buku sempurna di bawahnya kalau sedang salat jangan terburu-buru agar sempurna syarat rukunnya |
Paparèghân tersebut
mengajarkan agar seseorang tidak tergesa-gesa dalam menunaikan salat sehingga
nilai ibadahnya dapat dijalankan dengan khusyuk dan sempurna. Pesan religius
semacam ini menunjukkan bahwa paparèghân bukan sekadar hiburan lisan
yang indah didengar, melainkan juga media dakwah yang tumbuh dekat dengan
kehidupan sehari-hari masyarakat Madura. Melalui bahasa yang sederhana dan
mudah diingat, nilai-nilai keagamaan diwariskan secara halus dari satu generasi
ke generasi berikutnya.
Di sisi lain, paparèghân juga memuat
ajaran moral dalam kehidupan sosial. Sikap sombong, gemar bertengkar, dan tidak
jujur kerap menjadi bahan sindiran dalam paparèghân Madura. Hal ini
berkaitan erat dengan karakter masyarakat Madura yang sangat menjunjung harga
diri dan kepercayaan. Bagi mereka, kejujuran merupakan landasan penting dalam
menjaga hubungan antarsesama. Sekali seseorang mengingkari kepercayaan, maka
akan sulit baginya untuk kembali memperoleh penghormatan dari lingkungan
sekitarnya. Dengan demikian, paparèghân tidak hanya berfungsi sebagai
warisan sastra lisan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan etika dan karakter
sosial masyarakat.
Selain menjadi media penyampaian nasihat, paparèghân juga memiliki fungsi rekreatif yang lekat dengan kehidupan sosial masyarakat Madura. Hal ini sejalan dengan pendapat Alan Dundes (1965) yang menyatakan bahwa salah satu tujuan sastra lisan ialah sebagai sarana hiburan, sebagaimana tampak pada paparèghân berikut.
|
Saèket saghâmik - sangak sapolo tekket sakunik angak ho |
Terjemahan lima puluh, dua puluh lima
- sembilan, sepuluh tekan sedikit terasa
hangat |
Paparèghân tersebut
kerap disampaikan dalam suasana akrab mapupun situasi yang dipenuhi canda tawa melalui
permainan kata. Dalam berbagai situasi, tradisi ini kerap digunakan untuk
mencairkan suasana melalui ungkapan-ungkapan lucu, sindiran halus, maupun
permainan bahasa yang mengundang tawa tanpa menimbulkan rasa tersinggung di
antara sesama. Meskipun terdengar sederhana, setiap bait paparèghân
memiliki daya tarik tersendiri karena mampu menghadirkan kehangatan sekaligus
mempererat hubungan sosial masyarakat.
Selain
mempererat interaksi sosial, kemampuan menciptakan atau melantunkan paparèghân
juga sering dipandang sebagai tanda kecerdasan dan kreativitas dalam merangkai
kata-kata yang sarat makna. Kepiawaian berpaparèghân menunjukkan kepekaan
seseorang dalam memahami bahasa, situasi, serta cara berkomunikasi dengan
masyarakat sekitarnya. Tidak mengherankan apabila pada zaman dahulu para pemuda
Madura saling berlomba menunjukkan kepiawaiannya dalam menciptakan dan
melantunkan paparèghân di berbagai kesempatan sosial sebagai wujud
kecakapan berbahasa sekaligus kebanggaan terhadap budaya mereka.
Lebih jauh lagi, paparèghân dapat merepsentasikan
kemampuan berpikir masyarakat Madura yang kaya akan simbol dan makna. Untuk
memahami isi sebuah paparèghân, seseorang tidak cukup hanya mendengar
bunyi katanya, tetapi juga perlu menangkap konteks, simbol, serta pesan
tersembunyi di balik setiap baitnya. Karena itu, tradisi ini secara tidak
langsung melatih kepekaan berpikir kritis sekaligus memperkaya cara masyarakat
memahami bahasa dan kehidupan sosial. Dari sini tampak bahwa paparèghân
bukan sekadar hiburan rakyat semata, melainkan juga wujud kecerdasan budaya
yang diwariskan turun-temurun dan terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat
Madura.
Sayangnya, di tengah derasnya perkembangan
teknologi dan perubahan gaya hidup modern, keberadaan paparèghân kini
mulai menghadapi tantangan yang tidak ringan. Generasi muda perlahan semakin
jauh dari tradisi lisan daerah karena lebih akrab dengan budaya digital yang
serba cepat dan praktis. Tidak sedikit pula yang memandang budaya lama sebagai
sesuatu yang kuno dan kurang relevan dengan kehidupan masa kini. Jika keadaan
ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin beragam kearifan local seperti paparèghân
akan semakin jarang digunakan, lalu perlahan menghilang dari ruang hidup
masyarakat Madura.
Hilangnya paparèghân bukan sekadar
hilangnya sebuah tradisi lisan, melainkan juga memudarnya sebagian identitas
budaya Madura itu sendiri. Di dalam bait-baitnya tersimpan cara berpikir, nilai
moral, serta pandangan hidup yang sejak lama menjadi pedoman masyarakat. Oleh
karena itu, upaya melestarikan paparèghân menjadi tanggung jawab
bersama, terutama bagi generasi muda sebagai penerus budaya. Pelestarian
tersebut tidak harus dilakukan secara kaku atau terbatas pada ruang-ruang adat,
tetapi dapat diwujudkan melalui berbagai media modern, seperti pendidikan,
media sosial, pertunjukan budaya, hingga karya-karya kreatif yang lebih dekat
dengan kehidupan anak muda saat ini.
Paparèghân Madura bukan
sekadar warisan sastra lisan, melainkan cermin kehidupan masyarakat yang
merepresentasikan nilai penghormatan, moralitas, kerja keras, religiusitas,
serta hangatnya kebersamaan. Di balik rangkaian kata yang sederhana, paparèghân menyimpan kebijaksanaan hidup yang wajib
terus diwariskan lintas generasi. Melalui paparèghân, bahasa tidak hanya
hadir sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan
nilai-nilai kehidupan, menuturkan petuah kebijaksanaan, serta menjaga
kehangatan hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, menjaga
keberadaan paparèghân pada hakikatnya berarti menjaga denyut warisan
budaya Madura agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Salam budaya!
Lestari!
Daftar Pustaka
Bouvier, H. (2002). Lèbur: Seni musik dan
pertunjukan dalam masyarakat Madura. Yayasan
Obor Indonesia.
Danandjaja, J. (1984). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan
lain-lain. Pustaka Grafitipers.
Dundes, A. (1965). The study of folklore. Engelwood Cliffs, N.J.
Prentice Hall.
Hooykaas, C. (1953). Perintis sastra (Raihoel Amar gl. Datuk Besar.,
Penerj.). J.B. Wolters.
KBBI Daring. (2016). Pantun kilat. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pantun%20kilat
Baginya dunia pendidikan adalah
jalan pengabdian. Sejak 2016, ia mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas
Syari’ah dan Ekonomi Islam Universitas Ibrahimy, Pondok Pesantren Salafiyah
Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Ia juga aktif sebagai tutor Prodi PGSD di UPBJJ
Universitas Terbuka Jember pada 2018–2021, dosen MKWK Bahasa Indonesia
Universitas Jember pada 2019–2025, serta tutor tutorial online Universitas
Terbuka pusat sejak 2019 hingga kini. Sejak 2025, pengabdiannya berlanjut
sebagai dosen ASN pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Universitas Mataram.
