Antologi #10 Puisi Menolak Korupsi
Gagasan
Gendam adalah mantra atau guna-guna
untuk menguasai & mengendalikan kesadaran orang lain. Bagi sebagian
kalangan, gendam sangat mujarab memanipulasi pikiran liyan yang disasar sebagai
korban.
Dalam khazanah budaya lama gendam
diajarkan secara eksklusif & sembunyi-sembunyi berikut ragam beserta
prasyarat melakoninya. Cara menjalankan aksi gendam pun beraneka, tergantung
kejiwaan korban saat pertama kali penggendam menemuinya. Ada yang dibuat kaget,
kagum, bengong atau bingung, sedih mengharu biru hingga gembira kelewat
euforia. Usai fase awal itu terkondisi, leluasalah sang penggendam
memerintahkan apa saja termasuk mempermainkan target dengan instruksi atau
ujaran yang tak masuk akal.
Sejak digembar-gemborkan hingga saat
pelaksanaan, MBG (Makan Bergizi Gratis) sepertinya lebih mirip fenomena gendam.
Dari waktu ke waktu selalu ada kejutan tersebab perubahan esensi serta
substansinya menyoal konsep, nama, tata kelola hingga sumber dana. Pun
material, target, & sasarannya kerap mengandung penyimpangan yang
mengundang ekses tak terduga, absurd bahkan sulit dicerna logika.
Serupa penggendam menguasai lantas
mempermainkan targetnya, penguasa akhirnya leluasa menjejalkan MBG atas nama
program prioritas negara. Sebagai korban gendam, masyarakat cenderung tak
berdaya, cuma bisa patuh & terima segala yang dititahkan rezim pengelola
berikut modus-modus yang menungganginya.
Bermula sebagai gendam politik
elektoral, MBG menjelma bius kampanye berdiksi menggiurkan. Dari “makan
gratis”, “makan siang & susu gratis”, “makan bergizi & susu gratis”,
“sarapan & makan siang gratis” sampai “makan bergizi gratis”.
Kegagapan penamaan itu dari waktu ke
waktu terus mengombang-ambingkan nalar pikiran diiringi janji-janji manis
menyoal target, tujuan, & sasaran yang tak kunjung mapan. Mulai dari demi
perbaikan gizi siswa, kesehatan ibu hamil & lansia hingga guna menghapus
stunting, pun penggerak ekonomi rakyat guna menyambut bonus demografi sembari
mencipta generasi emas 2045. Dikuati klaim bergizi tinggi, mengandung vitamin,
yodium, & zat besi hingga berlauk lele & daging sapi, MBG benar-benar
malih makan bergizi gendam, sebab faktanya selalu bertolak belakang dengan yang
dimantrakan.
Gendam menyoal sumber anggaran & tata kelola tak ketinggalan ditebarkan. Mulai dari bakal dibiayai CSR swasta, hasil efisiensi birokrasi, rampasan harta koruptor hingga hibah & investasi luar negeri sempat diiming-imingkan. Bahkan rencana memanfaatkan hasil pengelolaan zakat nasional serta sumbangan masyarakat pun tak luput dirapalkan. Termutakhir, jaminan MBG tak mengganggu 20% anggaran pendidikan tegas ditipa-tipukan, seiring gembar-gembor tentang kenaikan anggaran di sektor itu dibarengi ironi pengajuan utang baru.
Gendam pelaksanaan yang bertumpu
kepada warga lokal, kantin sekolah, & UMKM setempat hingga bakal mengerek
ekonomi rakyat pun kian memabukkan. Para petani, nelayan, & pelaku rantai
perdagangan di kalangan bawah akan diantar ke gerbang kesejahteraan &
kemakmuran yang adil & merata. Ditambah kian terbukanya lapangan kerja baru
tanpa membantai sektor pekerjaan yang telah ada.
Faktanya, gendam MBG hanya memberi
privillege kepada yayasan & SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang
dikuasai pemodal menengah & besar serta berasal dari lingkungan eksekutif
& legislatif atau lingkaran partai penguasa. Bahkan institusi penegak hukum
& keamanan negara pun digelontori konsesi istimewa untuk cawe-cawe
menungganginya.
Banyak pihak mencoba melepaskan diri
dari gendam MBG dengan bersuara kritis demi mempertahankan akal waras &
kesadaran. Mereka mengabarkan momen keracunan massal, mengunggah foto menu
busuk, mentah, berbelatung hingga kadaluwarsa. Semua dilakukan warga agar lepas
dari gendam yang masif & ugal-ugalan sekalian mengamankan anak-anak dari
ancaman trauma makanan suapan hutang negara.
Namun seperti hendak memperbaharui
mantra gendam, rezim melancarkan teror & ancaman bagi sesiapan yang
menyuarakan kejujuran berdasar fakta obyektif di lapangan. Ada yang dipidanakan
karena dianggap merusak nama baik & menyebarkan kebencian, ada yang
didiskriminasi tak lagi dapat jatah makanan bahkan ada yang dituduh menghina
negara, dicap hendak menggagalkan program prioritas penguasa.
Apa pun, serangkaian gendam tersebut
harus terus dilawan dengan senantiasa menjaga kewarasan nalar, kejujuran nurani
serta ketajaman pikiran. Kesaksian harus terus dikabarkan sebagai upaya melawan
gendam negara!
Teknis
1. Penerbitan
Antologi #10 PMK (Puisi Menolak Korupsi); “Makan Bergizi Gendam!” bersifat
independen & nirlaba berdasar kemandirian yang menjunjung kebersamaan.
2. Penerbitan
ini merupakan kelanjutan program penerbitan antologi puisi Gerakan PMK,
mengakomodir karya penyair Indonesia dari beragam latar, usia, & puitika.
3. Puisi
merupakan karya asli (bukan saduran, bukan jiplakan) bertema “Makan Bergizi
Gendam!” atau tafsir atas gagasan tersebut.
4. Naskah
puisi maksimal 5 judul (format Ms. Word, A4, Times New Roman, spasi 1) disertai
biodata (1000 characters), alamat, nomor HP, akun email & medsos serta foto
wajah dikirim sebagai lampiran ke: sosiawan.leak@yahoo.com
5. Untuk
menjaga ketepatan tematik & kualitas puitik agar penerbitan layak menjadi
buku karya sastra, seluruh puisi akan diseleksi Tim Kurator PMK.
6.
Ongkos
penerbitan/percetakan didanai oleh penyair yang karyanya lolos seleksi.
7. Selain
mengirim puisi, kelak penyair yang karyanya lolos seleksi berkewajiban mengirim
iuran biaya penerbitan/percetakan minimal Rp. 100.000.
8. Iuran
tersebut akan dikembalikan kepada para penyair dalam wujud buku Antologi #10
PMK; “Makan Bergizi Gendam!” yang jumlahnya sebanding dengan iuran.
9. Seluruh
proses penerbitan diinformasikan transparan & terbuka melalui Grup Fb.
PUISI MENOLAK KORUPSI, Grup WA PMK 10, & Akun Fb. Sosiawan Leak.
10.
Deadline
pengiriman puisi 15 April 2026, pengumuman hasil seleksi 30 April 2026.
Solo, 12 Maret 2026
Sosiawan Leak,
Koordinator Nasional
Gerakan Puisi Menolak Korupsi
