Oleh: Dedi Sahara
Tiada jalan baru di sini
setiap jalan adalah lidah ular
yang menjulur bercabang
ke arah wajahmu
melepas bisa kuning kepedihan
Tiada jalan baru di sini
setiap jalan adalah paruh gagak
yang melengkung hitam
mematuki bangkai harapan
dan sepenggal daging kenangan
Tiada jalan baru di sini
setiap jalan adalah runcing taring
serigala
menikam dan mencengkeram liat
sekujur luka di tubuhmu yang papa
Tiada jalan baru di sini
yang kau perlukan hanya menjadi
keheningan
membiarkan suara-suara lain
berlintasan
hingga mampu menapaki bentang jalan
ini
menuju inti kehampaan abadi.
2026
Bionarasi penulis:
Dedi
Sahara, tinggal di Bandung. Menulis puisi, esai, dan aktif menerjemahkan buku
psikoanalis atau karya sastra. Buku terjemahan terbarunya adalah Jacques
Lacan: Antara Psikoanalisis dan Politik. Saat menjadi mahasiswa aktif
bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI, Asosiasi
Psikoanalisis Indonesia (API), dan Lingkar Studi Filsafat
Nahdliyyin (LSFN). Pernah menjadi redaktur Apresiasi Buruan.co.
Tags
puisi

