Pesut yang Memilih Laut


 
Oleh: Heri Haliling 

Senja kuning jeruk menyapih sepanjang Sungai Mahakam. Pada satu sungai pinggiran sungai, dihiasi ungu daun kamboja, dan bisikan dedaunan mangrove, kuburan putrinya berada. Pusaranya masih basah. Bau kembang merebak dan di sisinya sang ayah, Syarkawi, berlutut. Jemari kurus dan berkapal-kapal pada tapakannya itu merabai gundukan. Dalam inginnya Syarkawi merasakan hangat kulit putrinya. Kulit yang sejak dua minggu ini sudah tak lagi mampu ia asuh, gendong, dan berbagi canda kepada pemiliknya.

“Nak, Abah pulang,” bisiknya getir. Suaranya goyang tak menunjukkan arti kekuatan. Kejadiannya begitu cepat, semuanya menghilang dari sisinya seperti pasang dari lautan yang menerebas sungai atas perintah bulan.

Dan dalam ketiadaan yang lamat-lamat menjelma dendam, tangannya mengepal menggenggam sejumput tanah pusara.

“Maafkan, Abah. Semua gara-garanya! Rompis Oyang merenggut yang kupunya!”

***

Dengan bersaksi pada semua roh penunggu sungai, tiga tahun lalu, Idang Luhniar, istrinya masih menjadi ikan pesut. Setiap Subuh, Idang bangun lebih dulu, menyiapkan kopi hitam pekat dan nasi goreng ikan asin untuk bekal Syarkawi ke tambak. Di dapur, nyanyian Idang adalah yang Syarkawi inginkan. Suaranya biasa, tapi semangat itu muncul dari dalamnya. Idang duduk bersila dan Liliniar yang genap 3 tahun akan menggirang pula karena suara umanya. Biasanya putrinya terbahak usai memainkan jala, berjingkrak, berputar-putar, lalu polahnya akan berakibat macam-macam. Jatuh paling sering, tersangkut jaring udang kakinya yang usil itu. Dan abah umanya akan kaget sebentar oleh tangisan Liliniar yang menyambut kabut. Sebentar saja sebab putri manjanya itu memang pintar.

Idang masih menyanyi sambil memperbaiki jaring yang sobek.

"Ingat pesut?" tanya Syarkawi.

"Sudah jarang di sini. "

"Punah?"

"Sebagian," tukas Idang manja.

"Dan ada satu dekatku."

Idang mendongak. Kernyit pada keningnya terlihat. Dan itu mengasyikkan.

"Aku?" menjawil, "kamu ngasal saja."

"Pesut itu setia pada sungai. Ia tak pernah pergi ke laut meski bisa. Ia memilih rumahnya, menjaga anaknya di air yang tenang."

Dan Idang tersipu. "Aku memang di sini. Di sampingmu, di sungai ini."

Kemudian waktu berjalan bersama atmosfer asam saat keparat itu datang. Dari ujung samudra harusnya ia tenggelam saja di sana. Binasa! Sebaliknya ia muncul kembali bersama keagungan yang dibangga-banggakan. Dan jelas bagi Syarkawi, bahwa kehadirannya merupakan topan perusak.

Rompis Oyang pulang setelah lima tahun menjadi anak buah kapal pengangkut batu bara. Badannya kekar, kantongnya tebal, dan ceritanya tentang ombak tujuh samudra membuat para perempuan kampung terpana. Tak terkecuali Idang, perempuan yang dulu pernah dekat dengan Rompis.

Satu siang, saat Syarkawi berangkat menambak, Idang yang sedang menyisir Liliniar merasakan ada yang mengetuk pintu rumahnya. Segera gadis kecil itu berjingkrak mengintip dari lubang kayu. Bersama Idang yang terkaget-kaget, keduanya sepakat membuka pintu.

"Ini untuk putri kecilmu," memberikan sekotak besar cokelat dan sebuah boneka.

Idang kikuk bingung. Baginya ini merupakan kesalahan. Dengan menampik lengan Liliniar yang menjulur, Idang pun membalas.

"Aku hargai niat baikmu, tapi aku tak bisa terima ini."

"Umaa ... Umaa ..." rengek Liliniar merajuk tak setuju.

Dan kesempatan itu sungguh Rompis manfaatkan dengan maksimal.

"Kumohon," melihat Liliniar. Kemudian pria itu tersenyum licik, "kamu tak bisa mengabaikannya. Hanya sekali ini."

Perempuan itu, Idang Luhniar tak punya pilihan saat putrinya menggasak cokelat bersama tantrumnya. Ia terpaksa menuntun Liliniar ke dalam dan menyuruhnya bermain di ruang tengah. Kemudian Idang kembali ke pintu, berdiri dengan tangan bersilang.

"Kamu harus pergi," katanya pelan.

"Aku tahu," Rompis belum bergerak, "tapi aku ingin bilang sesuatu,"

"Tidak perlu, lekas pergilah," menutup pintu. Namun segera ditahan Rompis.

"Sebentar, Idang."

Dan ekspresi Idang tampak tak enak.

"Dulu, sebelum berlayar, aku ... aku terlalu muda. Terlalu takut bertanggung jawab. Aku tahu kamu sudah menikah, aku tahu kamu bahagia, tapi aku perlu kamu tahu bahwa ..."

"Bahwa apa?" potong Idang meninggi sedikit, "bahwa kamu menyesal? Bahwa kalau kamu tak pergi, kamu akan menikahiku? Rompis, itu dulu. Lima tahun lalu. Sekarang aku punya suami, aku punya anak,"

Rompis mengangguk pelan, "aku tahu. Dan aku tidak akan mengganggu. Aku cuma ingin jadi teman, Idang. Kalau kamu butuh sesuatu, aku di sini,"

"Aku tidak butuh apa-apa,"

Rompis tersenyum. Senyum yang dulu selalu membuat hati Idang berdesir. Dan embusan tuba dari desir itu adalah rasa bersalah.

"Baiklah. Boneka ini milik Liliniar, ya. Jangan kamu bakar, seperti yang kamu lakukan kepadaku sekarang,"

"Kulakukan apa kepadamu?"

Rompis melihat Liliniar berjalan di belakang Idang. Tanpa tunggu komando penolakan lagi, boneka ia berikan kepada gadis kecil itu. Dan segera melangkah pergi.

Pintu Idang tutup. Ia berbalik ke dalam. Dan untuk sesaat, dia terengah. Lumpuh! Jelaga rindu itu memenuhi dadanya dan berkumpul sebagai karbon. Penyatuan membentuk benda padat yang meremas-remas oleh sesak.

"Uma, paman tadi baik sekali!" celoteh gadis kecilnya.

Idang tak menjawab. Ia kembali ke dapur, mengambil centong lalu mengaduk sayur yang sudah mendidih dengan benak sengkarutan.

***

Setelahnya Rompis tak pernah datang ke rumah lagi, tapi ia sering terlihat di warung kopi dekat muara, itu siasat!  Idang kadang ke sana untuk membeli keperluan dapur. Dan setiap kali pula Rompis akan menyapa.

"Pagi, Idang!" atau "Liliniar sehat?"

Idang membalas dengan anggukan. Tak lebih. Namun pada suatu momentum, Idang hampir tertabrak kendaraan. Dia terjatuh bersama Liliniar! Belanjaan terhambur ke tanah. Di sana lah Rompis segera ambil peran. Dengan tanpa keraguan, ia cepat papah Idang sambil menggendong Liliniar.  Sialan! Sentuhannya hangat dan kuat.

Dan mana kala Idang telah mampu berdiri, Rompis langsung memunguti  belanjaan yang berserak. Perhatian itu mematikan. Dengan kikuk Idang hanya berterima kasih, meminta maaf, dan segera pulang. Sementara orang-orang yang terkejut alami kian menampilkan ekspresi ganjil yang dibuat-buat. Kesigapan dan perhatian Rompis sebagai orang luar senilai dengan kedekatan kepala keluarga.

Dan tentu saja, tak perlu waktu lama bisikan-bisikan itu akhirnya sampai ke telinga Syarkawi.

Satu malam di musim penghujan, sentakan Syarkawi memecah segalanya.

"Kamu pikir aku tolol! Setan itu kembali! Dan kamu menikmatinya, Idang?!" suaranya menakutkan. Liliniar yang hampir terlelap terbangun dan akhirnya menangis di ruang tengah.

"Sungguh, aku tak melakukan apa-apa!" Idang membalas dengan tangan gemetar.

"Tak melakukan apa-apa? Keparat itu menyentuhmu!"

"Itu hanya reflek pertolongan, suamiku."

Syarkawi tertawa pahit, "aku pria, Idang! Setiap kamu ke warung kopi, dia ada di sana. Kebetulan? Sialan!"

Idang dan Liliniar menangis berpelukan. Pertengkaran itu menjelma topan hingga fajar. Dan pada keputusannya saat Subuh, Syarkawi pergi ke tambak dengan mata sembap, tanpa bekal, tanpa kopi hitam pekat yang biasa Idang siapkan.

Sejak kejadian itu rumah mereka seperti es. Syarkawi lebih banyak diam, Idang lebih banyak menangis di dapur, sedangkan Liliniar? Bocah polos itu sebenarnya berusaha menghibur keduanya dengan tawa canggungnya, tapi angkuh angkara menguasainya.

Ada ungkapan derita tak akan datang sendiri. Ia mengudar seperti putusnya tasbih. Hujan melanda terus menerus, Sungai Mahakam pasang. Air tawar yang keruh kecokelatan naik menggenangi tambak-tambak yang membuat udang menghilang ke rawa. Dengan itu Syarkawi kerap pulang membawa tangan hampa berhari-hari. Hasil tangkapan tak cukup untuk membeli beras, apalagi susu untuk Liliniar. Demi menghemat solar dan kebutuhan lainnya, Syarkawi memutuskan menginap di gubuk dekat tambak udangnya.

Kala ekonomi mereka kian merosot, di situlah Rompis datang seperti banir yang menunggu pohon tumbang. Rompis mengetuk pintu. Di tangannya ada sekarung beras, sekantung ikan asin, dan uang kertas yang dilipat rapi.

"Tak perlu berpikir aneh-aneh. Jika kamu tak mau, tak mengapa! Tapi gunakan ini untuk Liliniar," bujuknya menatap Idang.

Perhatiannya berlangsung berminggu-minggu dalam diam. Beralasan bahwa Idang memperoleh sampingan sebagai penyiang ikan, kebohongannya menjelma kebiasaan. Dan ujung dari itu terjadilah apa yang semestinya tak terjadi. Dalam bujuk rayu dan pilinan rindu yang dipendam bertahun-tahun, genggaman Rompis berhasil menjerat buruan.

Malam, hujan mengamuk bersambut Rompis yang masuk ke dalam rumah. Segera Rompis memeluk Idang tanpa ragu. Perempuan itu lena oleh semuanya. Kakinya yang digiring ke kamar melemah tunduk. Dan celakanya, pintu dapur yang lupa Idang kunci.

Tentu saja Liliniar yang terjaga beranjak hendak menutup. Bersama boneka yang ia genggam ringkih, sapuan angin mengibas mainan itu. Boneka bergulir membentur dinding pintu, dan menariknya menuju titian yang biasa ibunya gunakan untuk mencuci. Liliniar mengekor untuk mendapatkanya kembali. Namun sungguh sayang, bersama lenguhan pada satu kamar, disapih hujan yang terus kian menderu, gadis 3 tahun itu terpeleset dan segera pasang Sungai Mahakam memeluk untuk membawanya pergi.

Menuju tambak, dua orang pria berlari tergopoh-gopoh menyusuri jalan sampan yang tersorot petromaks. Langit masih merinai dengan gempuran ombak Sungai Mahakam yang memainkan setiap sampan.

"Syarkawi! Putrimu ..." teriak salah satunya menyentak pukat kabut dini hari.

Syarkawi yang sedang menata jala tentu terkejut. Bersama kilatan guntur, hatinya kian poranda usai mendengar penjelasan keduanya.

Di dalam rumah, suasana telah ramai. Idang Luhniar tampak tergolek lemah dengan wajah kuyu oleh jerit dan tangis. Para tetangga membantu memangkunya, berharap Idang tak pingsan. Melihat sang istri yang tak mungkin untuk ditanyai, segeranya Syarkawi keluar menerejang hujan kembali.

Menjelang Subuh, setengah warga kampung dengan petromaks, obor, dan senter terus menyusuri aliran Sungai Mahakam. Di atas perahu Syarkawi berteriak memanggil putrinya. Panas air matanya bersembunyi dalam kibasan hujan. Ia menyelam ke setiap lubuk, meraba setiap akar pohon yang menjuntai ke air. Sayangnya, air yang kian meninggi lambat-lambat menciutkan nyali mereka.

Barulah di pagi hari yang merambat terik, di pinggiran rawa pakis-pakisan yang sunyi, sesosok tubuh kecil ditemukan mengambang. Tengkurap, tersangkut di akar-akar pohon. Rambutnya yang panjang menjuntai ke air seperti rumput laut.

Menyaksikan jasad putrinya telah diketemukan, Syarkawi memeluk bersama tangisan sunyi. Dalam kehancuran hebat yang tak mungkin ia terjemahkan, Syarkawi mengguncang-guncang tubuh mungil itu berharap bisa membangunkannya dari tidur panjang.

***

"Kamu tak becus, Syarkawi," suara Idang memecah ngiangan.

Syarkawi menoleh ke belakang. Idang berdiri di sana. Pakaiannya bagus dan memang Syarkawi telah mengetahui maksudnya. Pria itu mengabaikannya. Tolehannya kembali memaku pusara putrinya.

"Kamu tak bisa melindungi Liliniar. Kamu tak bisa memberi kami hidup layak,"

"Kamu tertarik ke lautan?" desis Syarkawi bergetar geram.

"Kurasa begitu," jawab Idang.

"Sore begini,"

"Tak. Pagi berangkat,"

"Bersama penghancur rumah tangga itu?"

"Dia akan bawa aku berlayar. Di laut, setidaknya aku bebas dan tak perlu mengenang duka di sungai yang menenggelamkan putriku."

Bahu Syarkawi naik turun. Tubuhnya bergetar dalam tundukan. Suaranya sirna. Sekitaran bunyi aliran air Sungai Mahakam memadu bersama gemerisik langkah kepergian Idang.

Dari surau kampung, azan Isya berkumandang. Di dalam rumah, tak ditemui Idang Luhniar. Keputusannya jelas sebagai jawaban. Dan Syarkawi yang datang hanya menatap ruang tengah tempat putrinya kerap bermain jaring.

Pria itu melepas bajunya yang kotor. Menggantung baju yang basah lembap. Terduduk di sana memeluk dua kakinya. Sementara di luar bunyi mengerumun kian mendekat. Syarkawi sungguh tak peduli. Dia kucek matanya. Menggigit bibir kuat-kuat. Air matanya yang merembes panas beriring tetesan merah yang jatuh dari sampiran baju itu. Dan dalam dingin malam, sentuhan suara tipis keluar dari mulutnya.

"Kebebasan lautan itu telah kalian dapatkan."

 

Selesai



 Biodata penulis:

 

Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Dia seorang guru di SMAN 2 Jorong. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif menulis. Beberapa karyanya meliputi novel, novelet, dan kumpulan cerpen telah terbit baik di media/majalah cetak atau online. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
1

Paparèghân

2

Pesut yang Memilih Laut

3

Tiada Jalan Baru

4

Kau dan Bahasa

5

Negasi

6

Deposit Karya Puisi "Tanah Tenggara" dari Sastra Timur Jawa kepada Perpusda M. Tabrani Pamekasan

7

Diskusi Buku: Semesta Ingatan dan Trauma Ekologis

8

Puisi-Puisi Mashuri

9

Undangan Menulis: Puisi Menolak Korupsi

10

Jalan Baluran

Formulir Kontak